REVIEW FILM THE MASTER (2012)

 Review Film The Master (2012)

Salah satu dari banyak sutradara yang menjadi favorit gua adalah Paul Thomas Anderson. Sejauh ini gua telah menyaksikan lima karyanya yaitu There Will Be Blood (2007), The Master (2012), Inherent Vice (2014), Phantom Thread (2017), dan Licorice Pizza (2021). Untuk pertama kalinya gua jatuh cinta pada gaya penyutradaraan dan bertuturnya melalui film There Will Be Blood (2007) yang dibintangi oleh Daniel Day-Lewis. Menurut gua film-film dari Paul Thomas Anderson (PTA) memiliki ciri khas pada cerita, kekuatan dari tokoh-tokohnya, dan permainan situasi yang bold. Tahun 2023 ini gua kembali menonton salah satu filmnya yaitu The Master untuk mengamati lebih jauh seberapa kerennya film karya PTA yang satu ini.

The Master adalah film drama psikologi yang rilis di tahun 2012. Film ini dibintangi oleh segelintir aktor papan atas seperti Phillip Seymour Hoffman, Joaquin Phoenix, Amy Adams, dan Rami Malek. The Master bercerita tentang seorang veteran angkatan laut bernama Freddie Quell (Joaquin Phoenix) yang mengalami trauma pasca perang atau bisa kita sebut sebagai post-traumatic stress disorder (PTSD). Freddie memiliki kecenderungan untuk mabuk-mabukan dengan meracik minuman alkoholnya sendiri, berprilaku liar dan agresif, serta haus akan seks. Setelah perang berakhir, Freddie luntang lantung bekerja kesana-kemari namun tidak pernah cocok dikarenakan prilaku buruknya, sampai pada suatu hari ia yang tengah mabuk tiba di sebuah kapal dan bertemu dengan Lancaster Dodd (Philip Seymour Hoffman), seorang ketua kultus bernama The Cause yang memiliki ketertarikan pada prilaku Freddie dan akhirnya merekrut Freddie untuk ikut bersamanya.

The Master menyelami bagaimana kondisi psikologi manusia ditentukan oleh apa yang pernah terjadi di masa lalunya, dengan menggali lebih dalam trauma dan kejadian-kejadian lainnya melalui metode hipnosis, film ini menyajikan sosok The Master (Dodd) yang kerap kali mengobati pasien-pasiennya menuju kesembuhan dengan praktik tidak biasa tersebut. Layaknya infeksi, sebuah ancaman yang masuk ke tubuh kultus tersebut akhirnya diserang oleh antibodi lainnya demi menyembuhkan permasalahan yang ditimbulkan oleh zat asing tersebut, ini dapat penonton saksikan ketika Freddie, seorang pemabuk yang tidak jelas asal-usulnya mulai masuk ke dalam kultus dan kerap kali menimbulkan masalah, yang secara otomatis keluarga Dodd berusaha menyingkirkannya dengan halus dan menganggapnya sebagai ancaman. Freddie menjadi alegori dari semua praktek yang dilakukan Dodd, ia adalah trauma masa lalu yang harus diungkapkan, dikeluarkan, dan dikontrol untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Film ini menyoroti bagaimana hubungan antara dua orang pria yang memiliki sifat yang jauh berbeda, benci dan cinta, ketergantungan, pembangkangan, dan relasi kuasa antara tuan dan yang dipertuankan. The Master memperlihatkan kepada penonton hal-hal tersebut, kisah Freddie yang harus melayani Dodd sebagai seorang The Master, dimana Dodd berjanji akan menyembuhkan Freddie dengan metodenya, sementara Freddie yang pesimis, putus asa, dan tak bisa diatur kerap kali berulah yang banyak merugikan Dodd dan sektenya. Namun setiap kali urutan kejadian-kejadian tersebut terjadi, keduanya selalu kembali bersama dan berdamai layaknya sepasang kakak-adik yang baru saja bertengkar. Dodd selalu merindukan Freddie dan menyayanginya sebagai pasien yang "spesial", sementara Freddie akan terus pulang ke Dodd layaknya anjing yang merindukan tuannya.

Mengulik lebih dalam terkait kondisi psikologi Freddie memang sangat menarik. Di film ini background story dari sosoknya yang memiliki trauma pasca perang serta janji yang belum terpenuhi untuk kembali pada Doris, wanita yang ia cintai, memicu semua tindakan yang dilakukan Freddie sepanjang film. Pada dasarnya kebiasaan-kebiasaan Freddie sendiri tak bisa dilepaskan dari latar belakangnya, dan kita dapat melihat bahwa itu semua dapat dibentuk dan dibendung ketika Freddie berusaha diterapi oleh Dodd. Freddie belajar untuk mengontrol prilaku buruknya, mengimajinasikan kesalahan-kesalahannya, mengenal dirinya lebih dalam, dan meluapkan segala kegundahannya. Pada tahapan-tahapan ini kita melihat bahwa seorang manusia bisa mengamati untuk meniru segala sesuatu yang ada di sekitarnya, serta beradaptasi dengan kondisi sekitar, kita dapat menemui hal itu pada sosok Freddie di beberapa adegan film ini.

Untuk segi teknis filmnya, film ini banyak menyuguhkan shot long take yang diambil dengan variasi type of shot, di mana kita sebagai penonton dapat melihat performa akting yang sangat memukau dari duo Phoenix dan Hoffman ketika keduanya saling berinteraksi dalam momen-momen emosional di film ini. Yang harus banget diapresiasi adalah totalitas dari Joaquin Phoenix dalam memerankan sosok Freddie yang benar-benar kompleks. Kalau kalian memperhatikan lebih dalam, Phoenix bertransformasi dan menyalurkannya melalui perubahan gestur tubuh seperti cara bicaranya yang hanya menggerakkan satu sisi dari mulutnya, cara berjalan, berat badan yang turun drastis, hingga postur tubuh yang tidak normal seperti agak membungkuk di bagian bahu dan tulang belikat. Gambar-gambar di film ini juga menampilkan shadow yang kuat seperti pada lukisan-lukisan yang menerapkan teknik chiaroscuro, hal ini berpengaruh kepada cara kita melihat tokoh-tokoh yang ada sepanjang film.

Kesimpulannya adalah The Master merupakan salah satu karya terbaik dari Paul Thomas Anderson. Kita dapat menyaksikan sebuah kisah rumit yang bermain pada kondisi psikologi, trauma, dan hasrat seksual dari tokoh Freddie yang sangat menarik, dengan gaya penyutradaraan khas PTA dan aspek teknis yang memukau sepanjang film. Secara jujur film ini berada di urutan kedua dari list favorit gua untuk film-film PTA. Oh iya gua juga pernah menulis artikel untuk tugas kuliah gua yang membahas psikologi Freddie Quell, kalian dapat membacanya di link berikut: ANALISA KEPRIBADIAN FREDDIE QUELL DALAM FILM THE MASTER (2012)

Terima kasih telah membaca review ini, sampai jumpa di review-review selanjutnya. Silahkan follow Instagram gua @im.amru dan subscribe Youtube gua: Daffa Amrullah.

Comments