REVIEW CINE-CONCERT SAMSARA (2024)

REVIEW CINE-CONCERT SAMSARA


5 tahun berlalu setelah gua menonton salah satu karya fenomenal dari sutaradara Garin Nugroho yang berjudul Kucumbu Tubuh Indahku (2018). Beberapa hari yang lalu akhirnya gua kembali berkesempatan untuk menikmati salah satu karya terbarunya dalam bentuk cine-concert yang berjudul Samsara. Samsara merupakan film Garin yang tahun ini memenangkan 4 kategori Piala Citra, di antaranya sutradara terbaik, penagarah sinematografi terbaik, penata musik terbaik, dan penata busana terbaik. Cine-concert Samsara digelar secara terbatas selama beberapa hari di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki.

Samsara adalah sebuah film bisu hitam-putih berdurasi 1 jam 20 menit. Film ini berlatar pulau Bali di tahun 1930-an di mana pada masa itu banyak ilmuan, peneliti, seniman, dan orang-orang terkenal datang dan mengeksplor keindahan pulau dewata. Kedatangan orang-orang kulit putih ke Bali berdampak pada pernikahan beda ras yang menghasilkan keturunan bule di pulau tropis ini. Sejatinya film Samsara berkisah seputar cinta dan mistis dengan balutan kepercayaan setempat yang kental sepanjang durasi film.


Film Samsara mengangkat tentang kisah pesugihan yang populer di tanah Jawa dan Bali. Istilah pesugihan sendiri mengacu kepada serangkaian ritual mistis yang dilakukan untuk mencapai kekayaan secara instan. Pesugihan tentunya melibatkan entitas gaib atau makhluk halus yang menjadi perantara untuk mencapai kekayaan instan tersebut. Dan di dalam film Samsara, entitas itu adalah Raja Kera.

Samsara banyak menghadirkan visual-visual yang mempesona dari lanskap pulau dewata, busana, tarian, manusia, dan properti-properti upacara keagamaan yang diiringi oleh penampilan musik langsung dari Gamelan Yuganada & Gabber Modus Operandi. Walaupun ditampilkan secara hitam putih, rasanya tidak mengurangi keindahan tiap-tiap gambar yang ditampilkan di layar. Berbagai adegan yang ditampilkan dapat membius penonton masuk ke dalam sebuah dunia yang magis dan menakjubkan. Dengan durasi nyaris satu setengah jam, kita akan merasakan pengalaman sinematik yang tidak biasa yang akan membuat jantung berdebar-debar.


Pemilihan setting dari film yang berlokasi di beberapa tempat di Bali seperti Taman Ujung, black lava Kintamani, Pura Ulun Danu Batur, dan candi Gunung Kawi makin menambah kentalnya suasana lawas sekaligus kemegahan dari pulau Dewata di era itu. Tak hanya dari segi visual, iringan musik tradisional dari Gamelan Yuganada juga melengkapi segala bentuk tarian dan gerakan indah para aktor maupun aktris pada film Samsara. Di beberapa adegan, musik elektronik dari Gabber Modus Operandi cenderung lebih dominan, menonjolkan sisi gila dari instrumen musik yang menjadikan film Samsara berasa seperti "kesurupan". Namun di banyak sisi kedua iringan musik tradisional dan elektronik dari duo performance ini malah saling melengkapi layaknya puzzle yang mengunci kesakralan adegan film ini.

Menonton cine-concert untuk pertama kalinya adalah sebuah pengalaman yang tak terlupakan untuk gua. Samsara ibarat sebuah mesin dengan komponen-komponen rumit yang menjalankan segala tugasnya agar dapat bekerja dengan baik. Setiap unsurnya mampu memukau penonton, dari sinematografi, musik, kostum, pengadeganan, tarian, hingga performa pemainnya yang sangat gila. Tanpa hadirnya suara, dialog, bahkan monolog sekalipun, film ini mampu mendeliver cerita dengan rangkaian gestur, mimik, dan gerak tubuh para pemainnya sepanjang film.


Rasanya seperti menonton sendratari dalam medium dua dimensi sekaligus konser musik elektronik secara langsung dengan balutan visi kuat dan ambisius dari seorang Garin Nugroho. Tak habis-habisnya mata gua terpukau dengan film yang ditampilkan di layar, maupun penampilan Gamelan Yuganada yang magis dan Gabber Modus Operandi yang eksentris. Sebuah malam yang mencengangkan, luar biasa, dan tak terlupakan.

Terima kasih telah membaca review ini. Jangan lupa follow Instagram gua: @im.amru dan subscribe channel Youtube gua: Daffa Amrullah.

Comments