Review Film One Battle After Another (2025)
“Viva La Revolución!”. Paul Thomas Anderson is come back with his new revolution film. One Battle After Another dibintangi oleh Leonardo DiCaprio, Sean Penn, Benicio del Toro, Regina Hall, Teyana Taylor, dan Chase Infiniti. Film ini mendapatkan review yang baik dari para kritikus maupun penonton.
One Battle After Another bercerita tentang seorang mantan pejuang revolusi bernama Bob (Leonardo DiCaprio) yang harus kembali berhadapan dengan musuh lamanya untuk menyelamatkan putrinya. Film bergenre comedy/adventure ini berdurasi 2 jam 41 menit. Sepanjang film, kita akan menyaksikan berbagai aksi yang diselingi oleh berbagai komedi gelap yang bikin geleng-geleng kepala. Menurut gua One Battle After Another ini merupakan salah satu film terbaik dari Paul Thomas Anderson.
Salah satu signature dari film-film Paul Thomas Anderson (PTA) adalah protagonis yang rapuh. Ia memiliki kekurangan yang menonjol sebagai manusia biasa, namun punya ciri khas yang menjadikan protagonis ini memorable. Di film ini, Bob ditampilkan sebagai laki-laki yang kerap diremehkan, bukan seorang alpha male dari kelompok revolusi. Bahkan ia kalah garang ketimbang pasangannya, Perfidia Beverly Hills (Teyana Taylor).
Dan di sisi sebaliknya, musuh tampil begitu garang. Kolonel Steven J. Lockjaw (Sean Penn) digambarkan sebagai seorang pemimpin pasukan pemburu di kesatuan militer yang begitu ambisius, tangguh, bahkan hampir mirip psikopat. Terkadang, melihatnya lama-lama di layar bikin penonton bilang “anjir banget ini orang”. Namun, ketika komedi bermain, sisi garang dari kolonel yang super maskulin ini tiba-tiba runtuh. Penonton bisa melihat dua sisi berbeda dari Lockjaw selama durasi film.
Lantas apa yang dibahas dalam One Battle After Another?. Nah film ini merupakan wadah bermain PTA untuk mengangkat isu-isu sosial yang masih hangat dan akan terus hangat untuk dibahas, yaitu rasisme. Di tengah kemajuan dunia yang kian berkembang. Masih ada segelintir kelompok yang mempertahankan supremasi warna kulit dan ras di atas kelompok lainnya. Selain itu film ini juga sangat relate dengan situasi dunia sekarang, dimana revolusi sedang gencar-gencarnya berlangsung di beberapa negara.
Gambaran konflik pejuang revolusi yang rutin melancarkan protes kepada pemerintah utama melalui berbagai aksi kerap muncul di film ini. Namun di balik massivenya topik tadi, film One Battle After Another punya cerita lain yang dekat dengan sisi personal Bob. Yaitu kisah ayah dan anak di tengah huru-hara kekalutan dunia dewasa ini. Selain itu, bisa dibilang film ini jadi film perselingkuhan paling unik di tahun 2025 hehehe.
Membahas film-film PTA rasanya kurang afdol kalau tidak memuji visualnya. Sejak pertama kali menonton film One Battle After Another, penonton sudah disuguhi adegan aksi dalam sequence yang keren. Bukan hanya dari caranya menyorot ruang lingkup tokoh-tokohnya. Tetapi juga memperkenalkan mereka sekaligus sifat dan tindakannya yang akan merajut alur cerita film ini.
PTA menggunakan VistaVision dalam eksekusi visualnya. Seperti film-film lainnya, warna dan grain khas 35mm cukup terasa di film ini. Banyak shot close up yang menekankan konflik personal antar tokoh-tokohnya. Selain itu yang paling GONG adalah sequence pengejaran mobil di tengah jalanan kosong khas Amerika. Penggunaan lensa tele bikin gambar terasa dekat dan padat, menambah intensitas ketegangan adegan, dan rasa terancam akan bahaya yang datang.
Dalam durasi 2 jam 41 menit rasanya PTA bisa mengisi full dunia dan cerita film ini. Mulai dari set up, kejayaan, kejatuhan, hingga regroupnya pasukan revolusi untuk menyelamatkan salah satu anak dari personilnya yang tengah diburu musuh bebuyutan mereka. Tidak hanya fokus ke cerita saja, PTA juga menyajikan berbagai tokoh yang ikonik selain Bob dan Lockjaw. Salah satu yang mencuri perhatian adalah kemunculan Sensei Sergia St. Carlos (Benicio Del Toro) yang tenang namun menggelitik. Percakapannya dengan Bob yang kerap kali menyinggung hal-hal di dunia nyata seperti Tom Cruise, bikin penonton tertawa berkali-kali.
Perlu dihighlight gua sangat menyukai chemistry keduanya, khususnya saat sequence pelarian. Ya tak perlu diragukan lagi akting dari DiCaprio dan Del Toro lah. DiCaprio membawa vibes emosian dan panikan ala-ala The Wolf of Wall Street (2013) dan Don’t Look Up (2021), sementara Del Toro ngebuild karakter dinginnya seperti di film The French Dispatch (2021). Tidak hanya duo Bob dan Sensei, Sean Penn juga gila banget aktingnya. Sekilas dia bisa bikin nostalgia dengan sosok Anton Chigurh dari film No Country for Old Men (2007).
Tidak hanya fokus kepada atmoster dan kesan film seperti beberapa karya sebelumnya. Melaui One Battle After Another kini PTA bisa membuktikan bahwa ia mampu membangun cerita yang solid dan berkesan. Secara keseluruhan film ini fun, keren, dan “Oscar worthy”.
Terima kasih telah membaca review ini. Jangan lupa follow Instagram gua: @im.amru dan subscribe channel Youtube gua: Daffa Amrullah.






Comments
Post a Comment