Review Film Sore: Istri Dari Masa Depan (2025)
Dalam selang waktu setengah tahun setelah perilisan film 1 Kakak 7 Ponakan, Yandy Laurens kembali menggoyangkan jagat perfilman Indonesia dengan merilis film Sore: Istri Dari Masa Depan. Film ini merupakan pengembangan cerita dari web seriesnya di tahun 2017. Pertanyaan terbesar selalu muncul ketika ada film seperti ini rilis di bioskop. Kira-kira apakah penonton mampu mengikuti alur cerita film Sore tanpa harus menonton seriesnya? Jawabannya adalah: IYA, kalian tidak perlu menonton seriesnya untuk memahami film Sore: Istri Dari Masa Depan.
Sore: Istri Dari Masa Depan merupakan film drama romance sekaligus fantasi yang banyak mencuri perhatian penonton akhir-akhir ini. Selain karena kisah drama yang menyentuh hati, konsepnya yang unik mampu memikat penonton untuk menikmati film ini berkali-kali. Film ini membawa konsep time loop yang jarang ditemui di film-film Indonesia. Namun bukan membahas terkait teknologi mesin waktu yang canggih ataupun rumitnya dunia paralel, multiverse, dan reinkarnasi. Sore tampil gagah untuk membahas CINTA.
Film ini bercerita mengenai Jonathan (Dion Wiyoko), seorang fotografer yang memiliki gaya hidup yang buruk karena masalah di masa lalunya. Antusiasmenya akan keindahan alam, justru berbanding terbalik dengan perasaan dan dilema di dalam dirinya. Ia dilanda kebingungan dan kecemasan terkait apa yang ia kejar saat ini. Tiba-tiba, di suatu pagi, seorang wanita cantik muncul di kamar tidurnya dan berkata bahwa dirinya adalah Sore (Sheila Dara Aisha), istri Jonathan dari masa depan.
Eits, film ini tidak bercerita mengenai Jonathan. Film ini sejatinya bercerita tentang Sore, istri Jonathan dari masa depan. Kemunculan pertama karakternya memicu tanda tanya sekaligus gelak tawa kecil. Namun perlahan berubah jadi duka lara yang berulang-ulang. Kisah Sore yang semula memberi penonton pertanyaan "How?" lambat laun berubah menjadi "Why?". "Bagaimana bisa Sore berada di sini?" bertransformasi menjadi "Mengapa Sore ada di sini?".
Dalam menuturkan kisah Sore, Jonathan, dan perjalanan waktunya yang berulang-ulang, Yandy Laurens menggunakan pembabakan yang dipisahkan sesuai dengan perspektif dari masing-masing karakter. Baik Jo maupun Sore berada di satu garis peristiwa yang sama, namun versi lengkapnya tetap ada di Sore sebagai tokoh utama. Nah repetisi-repetisi dengan berbagai alternatif kemungkinan yang terjadi ini dimainkan dengan berbagai perbedaan rasa. Menjadikan perjalanan waktu dari Sore tidak membosankan karena ekskalasi emosi yang terus meningkat di sepanjang durasinya.
Kalau membahas tentang aspek sinematografi, gua suka sekali ketika film Sore ini konsisten dengan gambar-gambar yang still di sepanjang film. Awalnya curiga kenapa tidak banyak explorasi teknis yang muncul, padahal latar peristiwanya di Kroasia dan Arktik. Sayang sekali kalau cuma still frame atau pan dan tilt down sesekali. Tapi ternyata baru sadar kalau Yandy Laurens pakai still karena karakter Jo itu seorang fotografer.
Ya, lagi-lagi Yandy Laurens gak sekedar bikin gambar asal bagus buat filmnya. Kalau di film 1 Kakak 7 Ponakan kita banyak ngeliat explorasi sinematografi yang nampilin bangunan dan aspek-aspek arsitektur lainnya karena latar belakang karakter Moko yang kuliah di jurusan itu. Sekarang di film Sore gua juga notice hal ini pada karakter Jo. Sinematografi film Sore bukan hanya nampilin lanskap Kroasia yang indah dengan wide, atau permainan medium close up yang intens buat ngebangun kedekatan Jo dan Sore, atau... atau... Ngasih cahaya tipis dari jendela yang ngebentuk shape di antara ruang gelap di rumah Jo di Kroasia, sehingga gambarnya keliatan kayak lukisan Rembrant. Tapi gambar bermain buat ngasih penonton sudut pandang dari Jo ataupun Sore.
Tadi gua bilang kan kalo Yandy Laurens menggunakan pembabakan pada filmnya sesuai dengan masing-masing karakter. Nah ini bekerja banget pada teknik sinematografinya, dimana gambar dari peristiwa yang sama diambil dari angle yang berbeda dari perspektif Jo maupun Sore. Selain itu, turning point karakter Jonathan juga diperlihatkan melalui teknik sinematografi di adegan Arktik. Saat awal, semua gambar still, sedangkan di akhir film, saat Jo sudah mengalami perjalanan emosional yang besar bersama Sore, adegan Arktik diambil sepenuhnya menggunakan hand held.
Gak cuma permainan teknik sinematografi yang digunakan untuk memperlihatkan transformasi emosi. Di film Sore, kostum dan hairstyle juga merepresentasikan bagaimana karakter tersebut berubah. Sore dengan berbagai tata rambutnya yang berganti-ganti sejak awal film dan akhir sesuai dengan seberapa bahagia atau kacaunya karakternya saat itu. Dan warna pakaiannya di tiap moment yang diadjust dari gelap ke terang.
Ngomongin film ini rasanya gak lengkap kalau tidak membahas Barasuara hehehe. Lagu-lagu yang ditampilkan di film Sore benar-benar sangat powerfull. Pancarona dan Terbuang Dalam Waktu memang sangat terikat dengan mood yang ditampilkan dari visual adegannya. Selain itu, rasanya penempatan waktu lagu ini dimainkan juga sangat pas, karena kekuatan instrumen musik dari lagu Terbuang Dalam Waktu yang sangat kompleks dikawinkan dengan adegan yang sangat satisfying akan bikin penonton tercengang. Jujur sebagai pendengar Barasuara yang ngikutin konser-konsernya pas kuliah, ketika lagu ini muncul langsung berasa nostalgia yang hebat. Terbayang betapa kharismatiknya band ini ketika tampil live (plis Barasuara kalau konser next time pakai visual film Sore ya hehehe).
Gua mau compare lagi nih, kalau 1 Kakak 7 Ponakan klop banget dan identik dengan Sal Priadi. Rasanya film Sore: Istri Dari Masa Depan bisa dibilang BARASUARA BANGET.
Yang gak boleh dilupain juga ketika ngereview film adalah membahas seputar akting dari pemainnya. Dion Wiyoko hadir dengan penampilan yang baik, karakter Jo berasa dingin dan mengganjal. Aktingnya tidak banyak meluapkan emosi, tapi terlihat ada sesuatu yang sedang bergejolak pada tiap aksinya. Sesekali diselingi humor situasional bersama Karlo (Goran Bogdan). Namun yang lebih menonjol tentunya Sheila Dara Aisha yang memerankan karakter Sore.
Sheila bisa membawakan Sore yang mudah dicintai sekaligus sisi lainnya yang rapuh. Dengan adegan yang berulang-ulang, ia terlihat cakap dalam menunjukan layer emosi yang terlihat ataupun disembunyikan oleh sosok Sore. Di beberapa adegan bahkan kita bisa melihat perasaan yang dirasakannya hanya melalui sorot matanya saat menatap Jonathan. Ia tampil apa adanya namun memikat di setiap adegan yang ada.
Di antara kesempurnaan aspek-aspek cerita, visual, audio, dan akting dari film Sore: Istri Dari Masa Depan. Beberapa hal yang mengganjal juga sedikit gua temui di filmnya. Seperti sangat kakunya akting para figuran di Kroasia, dan juga masih bingungnya gua sebagai penonton terkait dengan relasi apa yang menyebabkan time loop di film ini. Dan kenapa Sore yang terpilih oleh waktu untuk jadi orang spesial yang bisa menjalani kehidupan di dunia time loop ini.
Namun terlepas dari kekurangan tadi, salah satu hal menarik yang gua notice di dua film Yandy Laurens di tahun ini adalah sequence akhirnya yang satisfying. Baik 1 Kakak 7 Ponakan maupun Sore: Istri Dari Masa Depan memiliki karakter yang berkaitan dengan bidang seni, satunya arsitektur, dan satunya lagi fotografi. Hal ini mempengaruhi segala aspek teknis yang sudah gua jelaskan sepanjang review. Dan endingnya Yandy Laurens mengakhiri kisah protagonis dengan serangan pamungkas, yaitu "PRESENTASI".
Sejak awal saat gua nonton dua filmnya gua selalu bertanya-tanya "kenapa si Moko kuliah jurusan itu?" Atau "kenapa si Jo itu seorang fotografer". Apakah pemilihan profesi itu berpengaruh pada statement film dan jalan cerita, atau cuma jadi background story yang biasa aja dan gak memorable. Nah di sinilah keunikan Yandy Laurens. Ia menghadirkan konklusi dari semua pertanyaan di akhir film melalui adegan presentasi protagonisnya. Melalui monolog, montase flashback, dan adegan emosional. Satu film serasa dirangkum melalui 5 menit akhir, hal ini memberi penonton efek nostalgia emosi yang baru mereka rasakan beberapa menit yang lalu. Sehingga batin penonton akan terpuaskan saat credit title muncul di layar.
Jadi kalau ditanya film Sore itu tentang apa sih? Jawabannya tentang manusia dengan rasa cintanya. Rasa cinta yang tak pernah berubah, rasa cinta yang mampu bertahan walaupun terpisah ruang dan waktu. Walaupun harus menempuh sakit yang tak berujung, kekuatan cinta mampu menguatkan manusia untuk bertahan. Cinta yang melampaui kekuatan besar yang tak masuk akal, karena sejatinya cinta memang tak masuk akal. Di balik keindahan dunia, indahnya cinta seorang manusia kepada manusia lainnya mampu mengalahkan segalanya.
Menonton film Sore: Istri Dari Masa Depan adalah satu pengalaman yang tak terlupakan. Cinema experience yang patut diberi standing applause selama mungkin. Rasanya kalau disuruh ngebreakdown film Sore sebagai tugas kampus anak perfilman agar bisa menonton filmnya berulang kali, gua akan melakukannya dengan senang hati, hehehe. Terima kasih ya Mba Mita dan Mas Yandy yang sudah menghadirkan film ini kepada penonton Indonesia. Ditunggu karya-karya selanjutnya!.
Terima kasih sudah membaca review ini. Follow Instagram gua: @im.amru dan subscribe channel Youtube gua: Daffa Amrullah.








Comments
Post a Comment