Review Film Schindler's List (1993)
Salah satu karya Steven Spielberg yang menjadi film favorit gua adalah Schindler's List. Nggak perlu diragukan lagi, film yang menduduki peringkat ke-5 di IMDb top 100 ini memiliki banyak aspek yang membuat penonton jatuh cinta sekaligus bergidik ngeri ketika menontonnya. Gua masih inget pertama kali nonton film ini saat masih jadi mahasiswa IKJ. Di tahun 2019, salah seorang temen gua merekomendasikan film ini dan akhirnya kita nobar di kamar kos.
Sepanjang 3 jam 15 menit penonton akan diperlihatkan betapa kejamnya perlakuan tentara SS Nazi kepada bangsa Yahudi di Polandia pada masa perang dunia ke-2. Namun selain menyoroti Holocaust, yang menjadi sentral dari film ini adalah betapa mulianya Oskar Schindler (Liam Neeson), seorang pengusaha yang berhasil menyelamaatkan banyak nyawa orang-orang Yahudi selama masa kelam tersebut. Oskar bekerja sama dengan seorang akuntan Yahudi bernama Itzhak Stern (Ben Kingsley), dalam menyusun langkah-langkah halus untuk membebaskan para tawanan dari kekejaman yang berlangsung di kamp konsentrasi Plaszów. Film ini dibuat dengan warna hitam-putih, dan memiliki beberapa adegan berwarna yang menjadi highlight di film ini.
Spielberg menyuguhkan kita semua informasi yang ada di sepanjang film ini melalui beberapa sequence awal. Kita diperlihatkan oleh banyak karakter Yahudi dan jenderal-jenderal SS yang akan memiliki peran di film ini. Dan tentunya yang tak bisa dilewatkan adalah kemunculan awal dari Oskar Schindler yang sangat kharismatik. Spielberg memeperkenalkan Schindler dengan sangat baik melalui atribut yang ia kenakan, pola kedatangan, gestur, hingga attitudenya yang menunjukkan bahwa ialah protagonis yang akan menjalankan film ini.
Salah satu kekuatan yang sangat menonjol dari film Schindler's List adalah sinematografi. Janusz Kaminski berhasil memikat mata penonton melalui berbagai teknik sinematografi yang ditampilkan pada film ini. Selain frame-frame yang apik dan permainan type of shot, ia juga memberikan banyak kesan seperti menonjolkan kedudukan tokoh melalui low angle maupun penempatan objek di bagian foreground, menghadirkan kekacauan dengan gerak kamera handheld yang dinamis, serta teknik chiaroscuro yang membuat gambar menjadi lebih bold dengan warna hitam putihnya. Dengan demikian mata penonton akan tetap terpukau ketika menonton film ini walaupun durasi terbilang cukup panjang.
Penempatan musik juga terbilang sangat jitu. Pada sequence-sequence tertentu, musik menjadi sangat memorable dan menunjang segala emosi yang ada di film ini. Di balik itu semua tentunya ada seorang legenda John Williams yang bekerja di belakangnya. Williams tahu betul mengenai titik mana saja yang perlu disorot agar adegan tersebut tidak hanya sekedar lewat belaka, tetapi akan tetap terngiang di kepala penonton dengan musiknya.
Dan untuk cerita dari film Schindler's List sendiri bisa dibilang mudah dicerna selayaknya film-film Spielberg yang lainnya. Polanya terbilang standard struktur Hollywood klasik. Dimana alur terus bergerak maju, protagonis jelas punya goal yang ingin dicapai, dan kita dapat melihat banyak obstacle yang menghambat protagonis sepanjang film berlangsung. Di beberapa bagian film, penonton dapat menyaksikan beberapa informasi ditanam satu persatu untuk membuat dampak besar di bagian berikutnya.
Yang juga mencuri perhatian di film ini adalah sosok antagonisnya, yaitu Amon Göth (Ralph Fiennes). Menurut gua, Fiennes membawakan sosok ini dengan sangat cemerlang, bahkan mampu sejajar dengan kharisma Neeson dalam memerankan Oskar Schindler. Kehadirannya, sorot mata, dan segala prilakunya yang kejam akan membuat jantung penonton berdegup kencang saat melihat adegan-adegan yang melibatkannya sejak kemunculan awal di menit 51 film ini. Namun tak hanya kekejamannya yang jadi sorotan, kadang kita diajak untuk merasakan dilema dan rasa empatinya terhadap orang-orang yang ia jadikan tawanan di kamp konsentrasinya.
Overall, film Schindler's List adalah film perang yang sangat memukau. Dengan segala aspek yang ditampilkan di film ini rasanya penonton mampu mengingat ceritanya walaupun cukup panjang. Film ini juga memberi pelajaran akan pentingnya kemanusiaan, kejamnya perang, dan rasisme yang harus disadarkan kembali di tengah kacaunya situasi dunia saat ini. Pesan dan kesan dari gua untuk film ini adalah "Jadilah seperti Oskar Schindler yang selalu haus akan kebaikan, yang terus menerus merasa kurang untuk selalu membantu yang kesulitan, dan dalam banyak momen hal-hal kecil menjadi sangat berarti bagi orang lain". Sekian.
Terima kasih telah membaca review ini, jangan lupa follow Instagram gua @im.amru dan subscribe channel Youtube gua: Daffa Amrullah.
Comments
Post a Comment