REVIEW FILM POOR THINGS (2023)

 REVIEW FILM POOR THINGS (2023)

Yorgos Lanthimos memang memiliki ciri khas dalam menggarap film-filmnya. Humor gelap dan aneh, situasi janggal yang tidak biasa, dan seksualitas yang liar adalah beberapa di antaranya. Dalam beberapa tahun terakhir gua telah menyaksikan sebagian dari filmographynya, mulai dari Dogtooth (2009), The Lobster (2015), The Killing of a Sacred Deer (2017), dan The Favourite (2018). Kali ini gua berkesempatan untuk kembali menonton film terbarunya yang berjudul Poor Things (2023).

Film ini merupakan kolaborasi keduanya dengan Emma Stone setelah The Favourite. Poor Things bercerita mengenai Bella Baxter, seorang perempuan yang dihidupkan kembali oleh ilmuan aneh bernama Godwin Baxter. Dalam kehidupan keduanya, Bella mulai mengeksplorasi dunia dari titik nol hingga menemukan makna dari kehidupan yang sebenarnya. Film ini berhasil meraih 4 piala Oscar, salah satunya adalah piala kedua bagi Emma Stone sebagai aktris terbaik.

Bisa dibilang Poor Things merupakan salah satu masterpiece dari Yorgos Lanthimos sejauh ini setelah The Favourite. Kisahnya mirip dengan Frankenstein, namun lebih terasa dibalik ke sisi yang lebih humanis. Kali ini baik Yorgos Lanthimos maupun Emma Stone sama-sama berani dalam menampilkan performa terbaiknya demi kepuasan penonton. Sepanjang film gua terpana dengan berbagai eksperimen yang lebih gila dari sutradara yang satu ini.

Meskipun banyak adegan seksual yang sangat vulgar, namun yang lebih melekat di benak gua adalah bagaimana Yorgos Lanthimos ingin penontonnya sama-sama bertanya mengenai standar moral yang ada di masyarakat. Ia mengajak kita untuk memilah apa patokannya suatu hal dikatakan baik atau buruk, apakah pendapat orang lain selalu jadi acuan untuk menjalani kehidupan, dan apa yang membuat seseorang bahagia dalam hidupnya. Dengan mengikuti perjalanan pencarian jati diri seorang Bella Baxter, kita akan melihat perubahan drastis dari kepribadiannya di tiap-tiap babak yang ada di film ini, mulai dari London, Lisbon, kapal, Alexandria, hingga Paris. Semua terangkum dengan humor jenaka yang gelap, dan juga situasi-situasi kepolosan dan canggung yang membuat kita merenung.

Di sini Yorgos Lanthimos kembali bereksperimen dengan sinematografi. Ia menghadirkan gambar yang sangat cembung di banyak adegan selayaknya fish eye effect yang bahkan melampaui film The Favourite. Selain itu permainan zoom in dan zoom out yang menyorot ekspresi ke situasi maupun sebaliknya juga membuat penonton menerka-nerka keanehan apa yang akan terjadi selanjutnya. Tak hanya itu, film Poor Things juga bermain dengan warna hitam-putih yang merepresentasikan rasa terpenjara dari seorang Bella Baxter di bagian awal film. 

Poor Things yang merupakan film periodik dihiasi dengan berbagai kostum, make up, dan set yang megah, nyentrik, serta colorful. Dunia yang berusaha dibangun di film ini dibuat lebih sureal lagi dengan warna langit dan teknologi yang ditampilkan, namun tetap tidak mengubah konteks moral yang diangkat dari dunia nyata. Tidak hanya teknis yang membuat gua terpukau tapi juga cerita yang menelusuri bagaimana Bella Baxter belajar dari merangkai kata hingga filsafat. Semua diramu dengan penuh gairah, sexy, dan absurd selayaknya film-film Yorgos Lanthimos.

Penonton juga akan dipuaskan dengan akting dari empat orang tokoh yang saling terkait karena cinta, seks, penelitian, dan kehidupan di film ini. Emma Stone, Mark Ruffalo, Willem Dafoe, dan Ramy Youssef memiliki keunikan sendiri dalam menonjolkan karakter mereka yang berbeda-beda. Namun yang paling juara tentunya Emma Stone yang berani bugil-bugilan, gila-gilaan, dan terguncang-guncang secara emosi. Meskipun sering dibanding-bandingkan dengan Lily Gladstone di film Killers of Flower Moon (2023), tapi maaf untuk yang satu ini gua tetap pilih Emma sebagai juaranya.

Seperti biasa Yorgos Lanthimos kembali membuat mulut gua menganga saat menonton filmnya. Poor Things adalah sajian mata yang berasa aneh namun nikmat. Biasanya film-film Yorgos Lanthimos selalu ditutup dengan open ending yang membuat penonton mikir "lah anjir filmnya selesai gini doang? Endingnya gimana maksudnya?". Namun Poor Things menutup kisah Bella Baxter dengan kepuasan yang maksimal, sangat gua rekomendasikan untuk ditonton dengan orang tua tercinta hehehe.

Comments