Review Film Dua Hati Biru (2024)
Setelah menunggu 5 tahun lamanya, akhirnya gua bisa menyaksikan kelanjutan dari kisah Bima dan Dara di film Dua Hati Biru. Dua Hati Biru merupakan sequel dari film Dua Garis Biru (2019). Film ini disutradarai oleh Gina S. Noer dan Dinna Jasanti. Di film lanjutannya terdapat pergantian pemeran Dara yang sebelumnya dimainkan oleh Zara Adhisty menjadi Nurra Datau.
Selain Nurra, kita dapat menemui beberapa wajah baru dalam film ini, yaitu Farrell Rafisqy yang berperan sebagai Adam dan Keanu AGL sebagai Iqi. Garis besar cerita pada film ini adalah problematika Dara dan Bima yang harus bersama-sama belajar menjadi orang tua yang baik untuk Adam setelah kepulangan Dara dari Korea. Namun, masalah yang terlihat simpel ini ternyata jauh lebih complicated dari yang diduga. Penonton akan dibawa pada lika-liku perjuangan dua sejoli ini untuk menemukan titik terang bagi keduanya.
Dua Hati Biru tidak hanya menyuguhkan masalah sepasang suami istri muda yang baru saja bertemu setelah sekian lama LDR antar negara, namun juga kerumitan dari tuntutan sosial, ekonomi, dan beragam ekspektasi besar keluarga terhadap Bima dan Dara. Semua masalah tadi memiliki benang merah yang jelas, yaitu Adam. Adam sebagai tokoh kunci yang mewarnai film Dua Hati Biru membawa pertanyaan besar yang harus terjawab di akhir film yaitu "Apakah Bima dan Dara berhasil menjadi orang tua yang baik untuk Adam?". Sebuah pertanyaan sepele namun sulit diwujudkan, dan mungkin sangat relate dengan kehidupan semua orang tua di dunia.
Sejak durasi awalnya, penonton langsung diperlihatkan dengan masalah yang masuk di tengah keluarga kecil ini. Sebuah situasi baru yang asing bagi Bima dan Adam, kehadiran Dara secara langsung membuat culture shock bagi keduanya, terutama Adam yang masih kecil dan belum stabil. Dara yang merupakan "orang baru" harus berjuang mati-matian untuk merebut hati dari buah hatinya tersebut. Proses yang tidak mudah, ditambah masalah baru yang terus bermunculan dari pihak keluarga Bima dan Dara yang makin lama makin menumpuk dan membuat cerita makin kompleks seiring berjalannya waktu.
Tiap-tiap karakter dieksplor beriringan dengan masalahnya masing-masing. Tidak hanya main plot yang bikin jantung berdebar-debar, namun subplot dari orang-orang yang ada di sekeliling Bima dan Dara kian meramaikan film ini. Dua Hati Biru menjadi refleksi bagi para orang tua muda khususnya di Indonesia, bagaimana parenting menjadi sangat penting, begitu pula adulting. Film ini sangat menekankan bagaimana perjuangan sebuah generasi yang ada di tengah, yang harus membagi peran menjadi orang tua, pasangan, serta memposisikan diri sebagai seorang anak.
Secara personal gua sangat menyukai film ini karena roller coaster emosi yang membawa penonton senang dan sedih sepanjang film. Akting Angga Yunanda memang jempolan, Nurra Datau mampu menghadirkan Dara yang dewasa, solid dan berbeda dari Zara, sementara Farrell Rafisqy sangat natural dan begitu meyakinkan. Tak lupa Keanu AGL yang jadi pemanis dan membuat film begitu berwarna dan ceria. Selain mereka, performa emosional yang kuat juga dihadirkan oleh Cut Mini yang berperan sebagai ibu dari Bima.
Secara teknis, Dua Hati Biru beberapa kali menggunakan teknik pengambilan gambar long take untuk mengeksplorasi ruang dan emosi dari pemain-pemainnya. Namun di beberapa scene, pengambilan gambar still dengan long take juga berhasil menguras emosi. Gua rasa hal-hal tersebut kembali lagi kepada bagaimana penulisan skenario yang berimpact kepada adegan yang disajikan. Ketika adegannya simple, namun ditulis dengan bagus, maka hasilnya akan memuaskan.
Selain pengambilan gambar, aspek lain yang menunjang cerita adalah pemilihan color pallete yang didominasi warna pastel pada set, kostum, dan properti yang membuat film ini terlihat sangat manis. Yang tak kalah bikin emosi teraduk-aduk juga yaitu penempatan musik yang mengiringi adegan-adegan yang emosional seperti di film pertamanya. Kombinasi gambar, cerita, dan musik yang pas bakalan nambah ikatan antara penonton dan karakter pada film ini. Percaya deh, habis ini pasti kalian akan dengerin lagu-lagunya Kunto Aji, Idgitaf, dan Rara Sekar.
Dua Hati Biru akan mengajak penonton untuk tertawa, tersenyum, hingga menangis bersama keluarga kecil Bima, Dara, dan Adam. Dengan keraguan-keraguan yang menerpa mereka satu-satu, kita akan dibawa untuk mempertanyakan "Apakah kita gagal menjadi orang tua?", "Apakah kita gagal menjadi sepasang kekasih?", dan "Apakah kita gagal menjadi orang?". Beberapa pertanyaan yang menghantui Bima dan Dara, bahkan gua sendiri sebagai manusia yang someday mungkin akan ada di posisi mereka. Mungkin bahasa gaul dari para konten kreator review film adalah "Gila, serelate itu filmnya sama kehidupan asli".
Konklusi dari film ini adalah kita harus bisa mengerti satu sama lain, menerima dan beradaptasi, serta berani tumbuh dan berkembang walaupun sulit. Dari ikan yang kerap kali muncul di film ini baik dalam bentuk asli, boneka, atau mainan lainnya, hal yang bisa gua petik secara tak langsung adalah:
Seberapa besar masalahmu tetaplah berenang, karena arus yang menerjang kadang kecil, kadang jadi besar. Tetap bertahan dan berenang adalah solusinya. Kelak kita akan menemukan kebahagiaan di arus yang tenang.
Setelah penantian selama lima tahun, gua terpuaskan dengan film Dua Hati Biru yang hangat, menyentuh, dan bikin air mata berlinang setelah keluar dari bioskop. Sebuah sequel yang jauh dari kata mengecewakan dan sangat gua rekomendasikan untuk disaksikan.
Terima kasih telah membaca review ini. Follow instagram gua @im.amru dan subscribe Youtube gua: Daffa Amrullah.
Comments
Post a Comment