Sudah sekitar dua tahun gua tidak membuat tulisan mengenai perjalanan gua ke sebuah tempat. Kali ini karena momennya tepat, rasanya gua ingin kembali menuangkan pengalaman berharga ini melalui medium cerita. Sekarang pukul 19.41, gua berada di penerbangan dari Osaka ke Singapura. Beberapa jam awal gua habiskan untuk tidur karena badan sudah cukup lelah.
27 Maret lalu, tepat saat ulang tahun gua yang ke 25, gua pergi ke Jepang untuk menemui sahabat gua. Penerbangan dimulai dari Soekarno Hatta pukul 23.45. Ini pertama kalinya gua berkelana ke luar negeri setelah beberapa kali pergi ke Lombok dan Bali. Banyak hal yang gua pelajari saat melakukan perjalanan Internasional salah satunya mengenai persiapan dam kemampuan bahasa yang harus diperhatikan.
Di pesawat gua mendapat makanan, sederhana tapi cukup nikmat. Saking lahapnya, orang yang duduk di sebelah gua memberikan nasi boxnya untuk gua makan. Setelah ucapan terima kasih gua sampaikan, kita mulai mengobrol. Perempuan 29 tahun itu berasal dari China, kami sedikit berbincang mengenai pekerjaan yang kami lakukan hingga destinasi tujuan kami.
Beberapa jam kemudian kapten memberi gua kejutan berupa kartu ucapan ulang tahun bersamaan dengan jus dan buah potong. Gua merayakan pergantian usia di atas awan. Setelahnya gua transit di Shanghai, di mana mayoritas petugasnya tidak bisa berbahasa Inggris dan hanya menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi. Suhu di Shanghai cukup dingin, gua merasakan jemari gua membeku selama 7 jam penantian pesawat menuju Osaka.
Di pesawat dari Shanghai ke Osaka gua mengamati pemandangan Jepang dari jendela. Hamparan perbukitan yang celah-celahnya diisi oleh pemukiman membuat gua takjub, mereka seolah miniatur kecil yang disusun rapi dan tertata dengan baik. Pemandangan tersebut tak kalah mempesona dengan sunrise dari atas pesawat saat mau mendarat di Shanghai kemarin. Inilah pertama kalinya gua melihat Jepang secara langsung dari kejauhan.
Sesampainya di Kansai International Airport gua sedikit khawatir akibat peringatan dari pihak maskapai saat di bandara Soekarno Hatta. Namun di luar dugaan pemeriksaan berjalan dengan lancar, bahkan cenderung cepat dengan teknologi Jepang yang sangat modern. Salah seorang staff bertanya mengenai tempat tinggal gua selama di sini, gua menjawab bahwa gua akan tinggal di apartemen teman di Shiga. Setelahnya staff tersebut menyambut dengan kalimat "Welcome to Japan".
Dzikri, sahabat gua sejak di pesantren telah menunggu di pintu utara. Gua langsung memeluknya untuk melepas kerinduan setelah setahun tidak berjumpa. Tahun lalu, untuk pertama kalinya Dzikri pulang ke Indonesia setelah 3,5 tahun belajar di Jepang. Kami sempat bertemu dan nongkrong di beberapa tempat di Bogor dan Jakarta sebelum ia kembali ke Jepang untuk mempersiapkan tahun ajaran baru.
Selama 4 tahun ke belakang, gua dan Dzikri rutin untuk melakukan video call sekali dalam setahun untuk bercerita mengenai progress apa yang telah kami lakukan selama dua belas bulan terakhir. Di tahun 2020 gua pernah berjanji ke Dzikri bahwa suatu saat gua akan mengunjunginya ke Jepang saat gua sudah punya cukup uang. Dan tanpa terasa, hari yang dinantikan tiba, gua akhirnya tiba di Jepang. Dengan perasaan campur aduk gua mengikuti Dzikri untuk menuju apartemennya di Shiga.
Sepanjang perjalanan kami banyak bercerita. Topik yang dibahas seputar bagaimana kehidupan di Jepang, kesenian, hingga makanan. Cuaca cukup dingin saat itu, Dzikri bilang tidak biasanya di tanggal ini suhunya dingin karena harusnya sudah masuk musim semi. Selama kurang lebih 2 jam, gua menikmati perbincangan tersebut dan juga pemandangan Jepang dari kereta dan pedestrian di malam hari.
Keesokan harinya, sesuai jadwal kami pergi ke beberapa tempat-tempat terkenal di Kyoto. Cuaca mendung, langit tidak berwarna biru seperti yang gua harapkan. Hutan bambu Arashiyama, Fushimi Inari, Gion, dan Kawaramachi kami telusuri di tengah-tengah ramainya turis lokal dan internasional. Selama perjalanan banyak hal-hal menarik yang kami temukan, perbincangkan, dan lakukan seharian.
Gua sering bertanya ke Dzikri mengenai mana yang bunga sakura dan mana yang bukan sepanjang trip hari pertama. Kami menemukan beberapa pohon sakura yang sudah mekar dan jadi rebutan turis untuk foto, termasuk gua. Malam hari ditutup dengan makan kaisen don yang rasanya kompleks dan umami, salah satu hal yang gua idamkan kalo pergi ke Jepang karena banyaknya konten mengenai Tsujihan yang berseliweran di sosial media beberapa bulan belakangan. Sehabis kenyang, kami mandi di sento, ini merupakan pertama kalinya gua telanjang di pemandian umum, kaget tapi ternyata budaya berendam ala Jepang memang ampuh untuk merelaksasi badan setelah seharian jalan-jalan.
Keesokan harinya gua bangun lebih pagi dan membiarkan Dzikri beristirahat lebih lama. Gua berkeliling Shiga sendirian dengan berjalan kaki sambil melihat salah satu kuil di atas danau dekat apartemen Dzikri. Hujan pagi itu tak menghalangi langkah gua untuk menelusuri Jepang, kabut dan angin danau yang super dingin membuat gua kembali ke apartemen Dzikri untuk menghangatkan diri. Yang masih gua takjub adalah saat gua duduk di salah satu kursi di tepi danau, gua melihat seekor elang bertengger di atas atap kuil, mengeluarkan suaranya yang nyaring sambil mengepakkan sayapnya seolah-olah sedang menyombongkan diri.
Mulai agak siang kami berangkat ke Kyoto, mengunjungi Kyocera Museum of Art. Saat itu tujuan kami melihat pameran dari Takashi Murakami dan pameran lukisan Cubism dari masa ke masa. Saat melihat karya-karya yang terpajang, kami mulai bertanya-tanya, beropini, dan berimpretasi satu sama lain terkait seni itu sendiri. Perbincangan berubah menjadi "Apa yang mau lu lakukan selanjutnya?" Di sebuah taman di tengah Kyoto, momen-momen inilah yang akan terus melekat di benak gua sampai tutup usia.
Sebuah jalan di pinggir sungai besar di tengah kota Kyoto adalah tempat kami menghabiskan sore hari yang cerah dengan cahaya matahari keemasan. Dzikri menjelaskan mengenai aktifitas yang biasa dilakukan saat musim-musim tertentu di tempat ini. Lanjut, kami berjalan di sebuah pedestrian yang pinggirnya banyak pepohonan sakura yang tengah mekar, banyak burung gagak bermain dari pohon ke tiang listrik di sekitarnya. Langkah kaki kami sampai di sebuah restoran spesialis daging kuda yang sudah kami incar sejak kemarin sebelum ke sento.
Paket lengkap sashimi daging kuda, carpaccio, dan steik kuda adalah menu yang kami pesan malam itu. Dengan rasa penasaran yang bercampur dengan kekhawatiran akhirnya gua memberanikan diri untuk menelannya agar Dzikri juga berani mencobanya. Tidak seburuk yang dibayangkan, daging kuda memiliki kesamaan rasa seperti tuna, namun after taste dari lemaknya sedikit aneh dan alot. Sepertinya daging kuda adalah daging yang gua hanya ingin makan sekali seumur hidup, terutama untuk sashiminya.
Setelah agak kenyang kami mengunjungi Nijojo Castle yang sedang mengadakan event projection musim semi. Sebuah instalasi proyeksi audio-visual yang bertemakan sakura terpancarkan di dinding-dinding kastil. Dzikri yang sangat tertarik dengan seni audio-visual cukup banyak membahas hal tersebut selama kami menikmati instalasi di kastil besar itu. Tak terlalu lama kami segera keluar untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke destinasi selanjutnya, yaitu Kyoto Metro.
Kyoto Metro adalah sebuah bar legendaris di antara jalan atas dan bawah menuju subway. Di bar tersebut banyak seniman berkumpul, bahkan cenderung didominasi orang bule ketimbang orang Jepangnya sendiri. Dzikri bilang bahwa ia beberapa kali mengunjungi tempat tersebut bersama teman kampusnya, dan banyak acara seru di sana setiap akhir bulan. Benar saja malam itu mungkin jadi malam terseru selama gua berada di Jepang.
Oh iya, saat di Metro, Dzikri mengajak dua orang teman Jepangnya, Ren dan Shuto. Ren pertama kali bertemu dengan gua saat gua baru sampai di Shiga. Malam itu kami berkenalan di belakang restoran ramen langganan Dzikri, dengan udara yang dingin dan suhu berkisar 12°, Ren ditawari Dzikri untuk menghisap rokok Dji Sam Soe yang gua bawa dari Indonesia. Walaupun terkendala bahasa, tapi kami bisa saling mengerti ketika berkomunikasi satu sama lain.
Setelah malam yang seru di Metro, kami berempat pergi untuk bersantai sambil menikmati api unggun di tepi danau Shiga. Kami berangkat ke lokasi naik mobil Ren, dan sepanjang perjalanan, Shuto dan Ren tak henti-hentinya bertanya mengenai gua dan Indonesia. Gua pikir awalnya akan awkward, namun ternyata teman-teman Dzikri sangat asyik dan humble ke gua. Kami memanggang roti, dan gua bercerita mengenai kisah horror di Indonesia yang membuat mereka berdua tampak ketakutan dan tidak percaya.
Api unggunpun selesai ketika sunrise dari tepi danau mulai mucul. 24 jam yang melelahkan namun tak akan terlupakan. Cahaya matahari berwarna oranye, langit biru muda, udara dingin, dan suara lagu-lagu yang diputar Ren jadi pelengkap momen itu. Kami kembali ke apartemen, sementara Ren dan Shuto pulang.
Rasa kantuk tak dapat kami tahan, kami tidur walau sebentar karena siangnya Dzikri ada janji untuk membantu temannya melakukan photoshoot di kampus. Photoshoot berjalan lancar, gua kembali mendapat teman baru, namanya Hiyori, Hayahide, Itsuki, dan tiga orang lagi yang gua lupa namanya. Malam setelah photoshoot kami merokok di smoking area kampus sambil ngobrol-ngobrol. Gua juga tidak menyangka kalau teman-teman Dzikri bisa nyambung dengan gua yang cuma "turis" kala itu.
Walaupun sangat lelah dan kurang tidur kami lanjut ke Kyoto untuk datang ke acara musik audio visual bernama Spektra. Di acara ini para VJ bermain musik diiringi dengan visual yang mengikuti perubahan beat dan warna pada musiknya sendiri. Dzikri berkenalan dengan orang baru, bisa gua lihat walaupun sangat lelah dirinya bahagia karena salah satu hobinya bisa membuatnya mendapatkan koneksi lebih luas di Jepang. Sepulang dari Kyoto, kami lebih banyak diam, energi untuk bicara sudah habis, waktu luang di perjalanan lebih banyak dihabiskan untuk bermain ponsel masing-masing sampai di apartemen.
Hari terakhir di bulan Maret, kami pindah kota ke Osaka. Gua berkemas dan membawa barang-barang untuk meninggalkan apartemen Dzikri yang beberapa hari ini gua tinggali. Meskipun cuma beberapa hari saja tapi rasanya agak berat untuk pergi, karena banyak hal kami lakukan di sini. Apartemen Dzikripun juga jadi rumah pertama yang gua tinggali di Jepang, dimana gua belajar banyak hal mulai dari cara hidup hingga kebudayaan dari Dzikri di dekat meja tataminya.
Osaka menakjubkan, lebih padat dari Kyoto, dan sepenglihatan gua lebih banyak turis di sini. Pertama-tama kami ke Osaka castle, bukannya tidak tertarik untuk masuk ke dalam, tapi gua rasa menikmati momen di tamannya sambil mengobrol dengan Dzikri lebih asik ketimbang harus terus berjalan dari satu tempat ke tempat lain untuk mengisi waktu. Kadang berhenti sejenak dan menikmati suasana dan udara sejuk di Jepang itu nikmatnya berkali-kali lipat ketimbang terus berpindah-pindah. Kunjungan ke Osaka Castle kami akhiri dengan sedikit berfoto untuk menyimpan kenangan dalam bentuk fisik maupun digital melalui kamera.
Untuk mecari oleh-oleh kami pergi ke kawasan yang sangat ramai orang, namanya kalau tidak salah adalah Tombori Riverwalk. Salah satu ikonnya adalah papan reklame Glico yang jadi spot favorit turis untuk berfoto. Gua lebih suka berjalan-jalan di Kawaramachi ketimbang tempat ini karena tidak terlalu padat. Lapar yang sudah tak tertahankan memanggil kami untuk mencari tempat makan, karena Dzikri juga tidak terlalu tahu banyak restoran favorit di sini akhirnya kami makan all you can eat yang menurut gua menjadi all you can eat terbaik yang pernah gua makan seumur hidup.
Setelah hari yang menguras cukup banyak energi, pagi harinya kami ke destinasi yang gua tunggu-tunggu yaitu Universal Studio. Hari itu kebetulan bertepatan dengan hari libur Jepang, jadi kondisinya sangat ramai. Antusias kami besar, terutama saat awal-awal masuk, namun saat mengantre wahana Harry Potter semua berubah. 2,5 jam menunggu dengan antrian yang panjang membuat mood sedikit buruk, ditambah Dzikri yang kurang tidur sepertinya sangat lelah dan tidak bersemangat.
Namun saat menaiki wahana semangat kami kembali lagi. Ada beberapa hal seru yang gua lakukan di sini, salah satunya menikmati wahana VR Monster Hunter yang sangat keren. Selanjutnya kami menaiki wahana Flying Dinosaur yang antrinya sama seperti wahana Harry Potter, namun kembali merecharge energi kami. Senang rasanya dapat mengakhiri hari dengan melihat matahari terbenam di Universal Studio, detik itu rasanya keajaiban membawa gua ke sini untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang telah terpendam sejak kecil.
Makan malam kami tertuju pada sebuah restoran di stasiun. Kami makan izakaya yang kebetulan menjual sashimi daging paus yang gua cari semenjak hari pertama di Jepang. Kalau kata Dzikri "Semesta mendukung" dimana gua terus memikirkan suatu hal dan hal tersebut akan terjadi karena kekuatan sugesti dan usaha untuk mencari. Tadi siang padahal kami sudah kelelahan sampai jarang berbicara, namun saat makan malam rasanya obrolan kami kembali asyik seperti hari-hari pertama saat sampai di Jepang.
Hari terakhir di Jepang adalah yang terberat untuk gua. Gua selalu menyadari bahwa semuanya akan berakhir, dimana ada pertemuan pasti ada perpisahan. Paginya gua sempatkan cari oleh-oleh buat Khalid dan Rio di stasiun Shin-Osaka seorang diri. Gua juga mengenang sandwich berisi udang dan telur yang jadi sarapan terakhir gua di Jepang.
Setelah check out dari hotel, kami pergi ke bandara. Sebelum check in, gua makan unagi yang menjadi makanan terakhir gua di Jepang, salah satu wishlist gua yang akhirnya terwujud. Dzikri bercerita tentang stand up comedyan favoritnya, gua bercerita bahwa lusa gua udah harus kembali bekerja. Dzikri menemai gua sampai ke pintu security check.
Sebelum berpisah gua berterima kasih, sedikit berpesan, meminta maaf, sambil meneteskan air mata. Rasa sedih yang tidak bisa gua bendung setelah menjalani beberapa hari terbaik dalam hidup gua di Jepang bersama seorang sahabat lama. Setiap langkah gua ingat dengan kenangan-kenangan saat gua di sini. Gua peluk Dzikri sebagai tanda perpisahan, ia lalu pamit untuk pulang, begitu pula gua.
Sampai pesawat hampir mendarat di Singapura, gua masih memikirkan Dzikri dan hari-hari yang gua jalani bersamanya di Jepang. Lebih jauh lagi adalah persahabatan kita sejak 2011, momen-momen kebersamaan yang tidak seberapa lama namun cukup berkesan. Sejak 2012, inilah waktu terlama gua berinteraksi dengan Dzikri. Biasanya cuma sehari atau satu malam melalui video call.
Dzikri memang spesial di hidup gua. Satu-satunya sahabat yang bisa berbincang dan mengimbangi obrolan gua dengan berbagai topik. Ia berwawasan luas, pendengar yang baik, pemikir, dan pencari solusi. Salah satu pesan yang gua ingat sebelum berpisah adalah "keep growing", harus tetap tumbuh dan berproses seberapapun kecilnya.
Dzikri mengajarkan gua untuk menjalani apa yang menjadi kesukaan kita, berkorban dan bekerja keras, jadi diri sendiri, dan terus bermimpi. Gua berharap suatu saat bisa kembali ke Jepang, tidak tinggal dalam waktu yang lama, namun bisa merasakan perubahan antara kita berdua. Saat hari itu datang, gua akan ajak dia duduk di taman di Kyoto dekat Kyocera Museum, ngobrol sambil melihat aktifitas sekitar ditemani angin sejuk musim semi. Dan saat hari itu datang, gua akan bilang "nggak kerasa ya, beberapa tahun lalu kita duduk di sini lho sambil ngobrolin ini...".
Tamat.
Comments
Post a Comment