Review Film The Whale (2022)
Rasanya sudah sangat lama semenjak terakhir kali gua menonton film yang sedari awal hingga akhir dapat menguras air mata dan menunjukkan kepiluan yang begitu dalam. Emosi sekuat ini mungkin hanya sekali gua rasakan yaitu ketika menonton film Grave of the Fireflies (1988) karya Isao Tahakata, dan akhirnya gua kembali merasakan sensasi yang sama dan jarang gua dapatkan setelah menonton film The Whale karya Darren Aronofsky.
Film ini merupakan epic comeback dari Brendan Fraser, aktor yang biasa kita lihat di layar kaca bioskop Trans TV saat malam hari ketika masuk musim liburan waktu kecil. Fraser sendiri terkenal karena membintangi film-film The Mummy di awal tahun 2000an. Kali ini ia berhasil kembali membintangi sebuah film top sebagai leading actor setelah sebelumnya sempat meredup karena permasalahannya dengan Hollywood. The Whale disutradarai oleh Darren Aronofsky, sutradara film yang dikenal dengan drama psikologinya seperti Black Swan (2010), Mother! (2017), dan Reqiuem for a Dream (2000). Naskahnya diangkat dari sebuah teater dengan judul yang sama yang ditulis oleh Samuel D. Hunter.
The Whale sendiri bercerita tentang seorang guru bahasa Inggris online yang bernama Charlie (Brendan Fraser), ia memiliki kondisi badan yang obesitas, tinggal seorang diri dan dirawat oleh temannya yang bernama Liz (Hong Chau). Charlie harus berjuang untuk menebus kesalahannya atas perbuatannya kepada anak dan istrinya di masa lalu di tengah vonis umurnya yang hanya tersisa satu minggu. Film ini mengangkat drama keluarga yang hanya menggunakan setting 1 tempat yaitu di rumah Charlie dengan tema besar redemption dan loneliness.
Saat pertama kali membahas The Whale, hal yang ingin gua kasih tau ke kalian adalah akting dari Brendan Fraser yang sangat ciamik. Fraser mampu bertransformasi menjadi sosok pria obesitas yang introvert, penuh rasa tidak percaya diri, larut dalam depresi dan rasa bersalah, namun tetap memiliki pemikiran positif terhadap orang-orang sekitarnya. Kompleksitas dari tokoh Charlie dengan segala background masa lalu dan orientasi seksualnya membuat film The Whale semakin menarik untuk diikuti sejak awal perkenalan penonton dengan protagonis dan tubuh tambunnya. Charlie, dengan segala keterbatasan dan kekurangan baik dari fisik maupun sisi emosionalnya, tiba-tiba dihadapkan dengan berbagai kejadian yang mempertemukannya dengan orang baru dan orang lama yang seketika hadir di satu minggu sisa hidupnya.
Di sini kita akan melihat pergolakan antara tokoh Charlie dengan orang-orang yang datang ke rumahnya, menolak untuk diselamatkan secara fisik maupun batin, dan menebus kesalahan-kesalahan yang telah ia perbuat kepada anak dan istrinya, spesifiknya adalah bagaimana ia bisa menjalin hubungan dengan putrinya kembali dan membangun figur ayah yang telah lama hilang dari hidup putrinya. Film ini di satu sisi menghadirkan rasa pesimis dari diri Charlie namun di sisi lainnya tetap menghadirkan rasa optimis yang tipis-tipis dibangun perlahan oleh Charlie pula terhadap orang lain seperti Liz dan Ellie, putrinya. Jadi, sepanjang film kita akan melihat kombinasi konflik internal dan eksternal si protagonis yang mungkin terlihat sepele, seperti makan, duduk, mengambil kunci, dan aktifitas-aktifitas keseharian biasa, namun dengan berbagai perbincangan antar tokoh yang bermakna dalam dan sangat menguras emosi.
Seperti biasa Darren Aronofsky selalu membangun situasi-situasi ketidaknyamanan dengan memainkan visual dari fisik maupun pikiran protagonis yang dipaksa untuk survive pada kondisi-kondisi yang menekannya. Selain itu tone dari film yang sangat depresif dan melankolis ditunjang dengan gambaran detail-detail dari seluk beluk rumah Charlie beserta sudut-sudut ruangan yang ia singgahi akan mampu menyuguhkan penonton untuk melihat bagaimana sulitnya kehidupan seseorang yang menderita obesitas. Oh iya, bentuk fisik Charlie mungkin kerap kali mengingatkan kita akan orang-orang yang biasa kita lihat di kehidupan sehari-hari yang nyatanya hal tersebut bukan buah dari keserakahan seperti yang selalu distigmakan banyak orang terhadap pengidap obesitas, melainkan karena rasa kehilangan yang membuat seseorang hancur dan kehilangan arah hidupnya sampai seperti itu.
Tak hanya itu, The Whale sendiri juga terinspirasi dari sebuah kisah yang diambil dari buku Moby-Dick yang membahas tentang seekor ikan paus dan pemburunya, sepenggal kisahnya kemudian dijadikan sebuah essay, dan essay tersebut menjadi gambaran dari pahitnya kehidupan dari protagonisnya sendiri. Essay pada film ini juga memainkan peran penting dalam segi penceritaan, yang mana hal ini membuka berbagai kemungkinan tokoh Charlie terhadap berbagai hal dan mempengaruhi kehidupan sekaligus kematiannya.
Kesimpulannya adalah film The Whale merupakan film yang sangat humanis, ia dapat membawa sisi lain kehidupan dari manusia-manusia yang takut untuk bersuara karena keterbatasan fisik yang dimilikinya, beserta duka dan rasa bersalah akan gelapnya masa lalu yang kerap kali menghantui mereka sepanjang hidupnya hingga terlintas pikiran untuk mempersingkat hidup merupakan jalan yang terbaik. Film yang sangat menyedihkan, emosional, dan layak diberi tepuk tangan yang meriah. Setelah menonton film ini, gua optimis bahwa Brendan Fraser dapat membawa pulang piala Oscar pertamanya tahun ini.
Terima kasih telah membaca review ini. Jangan lupa follow Instagram gua @im.amru dan subscribe Youtube gua: Daffa Amrullah.
Comments
Post a Comment