Review Film Babylon (2022)
Wow, Damien Chazelle berhasil memecah penonton menjadi dua kubu setelah menonton film Babylon. Kubu pertama adalah yang membenci film ini, dan yang kedua adalah yang menyukai film ini. Secara jujur gua merupakan salah satu dari kubu yang kedua, di mana gua menyukai film Babylon karya Chazelle ini, walaupun tidak melebihi kecintaan gua kepada film-film pendahulunya seperti La la land (2016) dan Whiplash (2014).
Babylon sendiri merupakan film drama komedi sekaligus sejarah yang bercerita mengenai era emas industri film Hollywood di tahun 1920-1930an, yang mana di tahun-tahun tersebut terdapat sebuah inovasi serta momentum besar yaitu peralihan dari film bisu menjadi film bersuara. Film yang dinominasikan untuk 3 kategori Oscar ini dibintangi oleh Brad Pitt, Margot Robbie, dan Diego Calva.
Ada banyak faktor yang membuat penonton dapat menyukai ataupun membenci film ini, pertama-tama gua akan membahas faktor negatif dari film Babylon itu sendiri. Yang paling mendasar adalah tema besar dari film Babylon, yaitu tentang glorifikasi industri film Hollywood di era emasnya, perlu dinote bahwa tidak semua orang di dunia paham dan mngerti mengenai sejarah sinema, khususnya untuk film ini adalah Hollywood. Ya memang Babylon sendiri merupakan love letter dari Chazelle untuk sinema, namun di review sebelumnya yang membahas film The Fabelmans gua sudah tegaskan bahwa film bertema serupa sudah banyak diproduksi dan membanjiri Hollywood beberapa tahun ke belakang, sebut saja Once Upon a Time... in Hollywood (2019) karya Quentin Tarantino, Mank (2020) karya David Fincher, dan Hail, Caesar! (2016) karya Coen Brothers. Hal inilah yang mungkin membuat tema serupa menjadi menjenuhkan di pasaran.
Kedua adalah durasi yang sangat lama. Film Babylon berdurasi 3 jam 9 menit, setara dengan film-film seperti trilogi The Lord of the Rings, The Godfathers, bahkan The Irishman, sebuah perjuangan untuk menonton film dengan durasi sepanjang itu dengan fokus yang maksimal bagi para penonton awam. Terkait dengan faktor sebelumnya, rasanya durasi sepanjang ini tidak terlalu diperlukan untuk film yang isinya cuma mengglorifikasi industri Hollywood secara berlebihan. Dan yang ketiga adalah kurang kuatnya plot dari film itu sendiri yang membuat cerita menjadi berantakan dan ngalor ngidul di beberapa bagian film.
Untuk faktor positif film ini gua tulis berdasarkan opini personal gua ketika menyaksikan film Babylon yang mungkin bisa diterima ataupun ditolak oleh penonton lain. Begini, film ini adalah sebuah mahakarya yang ambisius dari Chazelle yang mungkin akan sukses apabila eksekusinya dilakukan dengan maksimal dan dirilis di waktu yang tepat. Sejak paruh awalnya di 30 menit pertama, gua sangat jatuh cinta pada Babylon, di mana ia mulai memperkenalkan satu persatu tokoh-tokoh yang terlibat di kisah ini melalui sequence pesta yang sangat "liar", penuh tarian erotis, ketelanjangan, narkoba, minuman keras, dan adegan seks, sebuah gambaran sempurna untuk menampilkan wajah besar Hollywood, keglamoran, dan sisi gelap dunia malam yang ada di dalamnya pada era itu.
Di sini kita dapat melihat tokoh-tokoh dengan beragam background dan introduksi yang berbeda-beda. Nellie (Margot Robbie) dan Manny (Diego Calva), dua orang pemuda-pemudi dengan latar belakang ekonomi kelas rendah yang bermimpi untuk masuk dan sukses di industri perfilman, Jack Conrad (Brad Pitt), seorang aktor terkenal yang digandrungi banyak wanita, Sidney Palmer (Jovan Adepo), seorang pemain terompet jazz berkulit hitam, dan Lady Fay Zhu (Li Jun Li), seorang penyanyi kabaret lesbian yang sensasional.
Setelahnya, penonton akan menyaksikan sebuah kisah kesuksesan sekaligus kejatuhan dari tokoh-tokoh tersebut, walaupun dengan porsi yang tidak seimbang dan lebih menekankan kepada sosok Nellie dan Manny, beserta kegilaan-kegilaan yang ada di industri film Hollywood. Banyak adegan-adegan yang memperlihatkan proses dari pembuatan sebuah film mulai dari developing, script writing, sampai ke proses shooting dan editing yang masih sangat jadul dengan menggunakan seluloid. Semuanya diiringi dengan beragam komedi dan tragedi dari kelima tokoh yang ada, yang masing-masing juga saling berkaitan satu sama lain di industri tersebut.
Di film ini kita juga dapat melihat betapa sulitnya baik filmmaker maupun aktor dalam beradaptasi dengan situasi dan kondisi transisi teknologi suara yang mulai diterapkan dalam proses pembuatan sebuah film. Masuknya politik, kuatnya rasisme, dan keterlibatan masyarakat yang menjudge moral orang-orang dalam lingkungan film, membuat mereka mau tidak mau harus memiliki batasan-batasan yang harus dijaga untuk tetap berada pada spotlight dan tetap menjual di pasar.
Gua sangat jatuh cinta pada Margot Robbie yang membawakan karakter Nellie dengan sangat energik, flamboyan, dan penuh kegilaan. Sosoknya yang selalu mencuri perhatian merupakan salah satu faktor yang membuat film Babylon masih menarik untuk disaksikan di tengah kacaunya film ini. Diego Calva dan Brad Pitt juga memiliki daya tarik tersendiri dalam membawakan karakter mereka yang mengalami transformasi dari awal hingga akhir walaupun tidak sekuat Robbie. Babylon juga banyak menampilkan aktor dan aktris yang memiliki peran minor pada film ini, seperti Olivia Wilde, Tobey Maguire, Samara Weaving, dan Katherine Waterson.
Dari segi teknis, proses shooting yang menggunakan film membuat tampilan Babylon terkesan jadul dan indah, karena warna yang keluar dan grain yang dimiliki oleh bahan film itu sangat khas dan gua cukup menyukai film yang menggunakan teknik perekaman gambar seperti itu ketimbang film yang dishooting dengan kamera digital. Apalagi Babylon sendiri mengangkat kisah tentang pembuatan film di masa lalu yang rasanya tepat sekali ketika Chazelle dan Linus Sandgren yang duduk di kursi sinematografer memutuskan untuk shooting dengan film.
Gua tidak bisa berbohong bahwa production design dan costume design dari film Babylon sangatlah mewah, keren, dan sangat layak untuk mendapatkan apresiasi lebih. Film dengan tampilan serupa sepertinya dapat gua temukan saat menyaksikan film The Great Gatsby (2013) sepuluh tahun lalu. Dengan banyaknya adegan-adegan pesta, shooting film kolosal, dan lingkungan California di era 1920an, kedua aspek ini berhasil membawa penonton untuk melihat hingar bingar dari dunia hiburan dan tampilan Amerika pada masa itu.
Dan yang paling bombastis dan faktor positif terakhir yang ingin gua sebutkan mungkin adalah musik yang ditangani oleh sosok Justin Hurwitz. Sedari awal film telinga penonton akan dimanjakan dengan berbagai instrumen musik jazz dengan bunyi terompet yang sangat menonjol dan dimainkan oleh tokoh Sidney sepanjang film. Dengan musik-musik tersebut indra pendengaran kita akan dipuaskan seluruhnya, dan musik ini juga akan menambah lengkap suasana kemeriahan serta mood ceria dan nostalgia yang ingin dibangun oleh film Babylon.
Satu lagi hal negatif dari film Babylon yang ingin gua tambahkan untuk review ini adalah dari segi editing, di mana tiap-tiap transisi antar sequence terasa sangat kaku dan terasa jumping yang membuat ketidaknyamanan karena beberapa perpindahan scene juga akan sangat kontras dari segi visual maupun suara.
Kesimpulannya, film Babylon adalah proyek ambisius yang mengangkat kisah tentang ambisi, cita-cita, perjuangan, cinta, kegilaan, dan kejatuhan manusia-manusia yang hidup di era emas Hollywood dengan ending yang menjadi salah satu penutup film paling baik yang pernah gua tonton. Dengan segala aspek-aspek audio visual megahnya yang ingin ditampilkan namun tetap saja tidak berhasil dalam memaksimalkan segala potensi yang ada sehingga terasa tidak sepowerful kisah-kisah sebelumnya yang pernah digarap oleh Damien Chazelle.
Terima kasih telah membaca review ini, jangan lupa follow instagram gua @im.amru dan subscribe Youtube gua: Daffa Amrullah.
Comments
Post a Comment