Ulasan Film Ziarah
Ziarah adalah sebuah film yang disutradarai oleh BW Putra
Negara. Film ini bercerita tentang seorang nenek bernama Mbah
Sri yang ingin mencari makam suaminya yang tak kunjung pulang ketika pamit
berperang semasa Agresi Militer II.
Ziarah menyajikan sebuah kisah cinta sederhana serta
mengangkat rasa ketulusan seorang istri kepada suaminya yang larut dalam
penantian panjang. Tujuan protagonis dalam film hanya sebatas ingin dikuburkan
di samping makam suaminya, namun dalam segi penceritaan film ini berhasil menghadirkan
berbagai macam isu sosial dan politik yang menjadi keresahan-keresahan yang tak
terucap seperti trauma pasca perang, nasib para veteran, dan berbagai hal
lainnya yang dibalut dalam dialog serta kehidupan masa kini di Jawa Tengah.
Salah satu hal yang diangkat adalah pesan mengenai keresahan masyarakat kecil
terhadap tindakan represif dari aparat (atau bisa dibilang tantara) yang
diwujudkan oleh adegan pencarian Alas Pucung yang telah menjadi Waduk Kedung Ombo
oleh Prapto, cucu Mbah Sri. Berbagai macam tokoh tantara yang disebutkan pada film ini
tidak digambarkan melalui glorifikasi sosok heroik, melainkan memiliki
representasi masing-masing tergantung tempat dan orang yang menuturkannya. Film
ini juga mewakili sebuah suara kecil mengenai kasus genosida 65 yang digambarkan
oleh tokoh Ki Husodo yang namanya tidak disebutkan lagi sejak tahun tersebut.
Selain itu film ini juga mengangkat berbagai macam kepercayaan mistis yang
masih diyakini oleh sebagian masyarakat Jawa melalui adegan Palung Gantung dan
keris yang berpasangan.
Tokoh Mbah Sri pada film Ziarah merupakan representasi istri
dan seorang wanita Jawa yang legowo. Aktingnya
sangat natural sebagaimana manusia biasa yang hanya ingin mencari kedamaian
batin melalui prosesi ziarah yang terus dilestarikan sebagai kebudayaan yang
diangkat pada film ini. Mbah Sri kian membawa film ini melalui jalur-jalur yang
ia lewati dengan berbagai cerita yang kental akan kisah-kisah membumi, tata krama, dan
filosofi-filosofi kehidupan orang Jawa semestinya.
Film Ziarah mengajak kita menelusuri bebagai tempat yang
dijadikan latar penceritaan seperti rumah-rumah, pasar, terminal, pemakaman,
waduk, serta panorama pegunungan dan padang rumput yang sangat kental dengan nuansa
Jawa Tengah. Sinematografi yang banyak menggunakan natural light dan menyajikan berbagai komposisi serta diperkuat
dengan mise en scene khas Indonesia
tersebut mampu mengiringi perjalanan Mbah Sri mencari makam suaminya. Secara
keseluruhan, Ziarah tidak monoton kepada perjalanan Mbah Sri, melainkan juga
memiliki subplot mengenai rumit dan
manisnya kisah cinta Prapto yang akan menikah dalam waktu dekat. Film ini juga
kerap kali ditunjang dengan beberapa parallel editing dan penataan musik sederhana
namun membawa suasana menjadi lebih syahdu dalam adegan-adegan diam maupun
berkelanjutan.
Pada akhirnya langkah kaki keriput yang menapaki
berpuluh-puluh bahkan ratusan kilometer tersebut sampai pada sebuah pusara yang
menjawab penantian Mbah Sri selama bertahun-tahun. Dengan akhir yang menyayat
hati, sosok tua itu bahkan tidak menaruh sesal, atau alih-alih amarah dan
dengki. Ziarah menguak sebuah makna mendalam sebuah tradisi serta mengajarkan
kita semua bagaimana sikap legowo dan
nrimo dari Mbah Sri, hal tersebut
merupakan obat batin paling mujarab dalam melepaskan sisa kehidupan yang kelak
semua orang akan tinggalkan.
Comments
Post a Comment