CERPEN: TIRAI BIRU
Siang itu aku bersama temanku Wahyu
mengendarai sepeda motor untuk makan siang di sebuah warung makan langganan
kami. Matahari di atas kawasan Kenari memang suhunya di atas rata-rata, apalagi
kalau hari Jum'at pasti panasnya bertambah menjadi dua kali lebih hebat dari
biasanya, itu yang menyebabkan kulitku berwarna sawo matang, bahkan lebih gelap
dari beberapa tahun terakhir. Sering kali temanku berkata bahwa diriku yang
sekarang jauh lebih buluk dari yang dulu, pikirku karena memang dua tahun
terakhir kami jarang bertemu dan wajahku sudah ditumbuhi dengan rambut-rambut
halus yang cukup lebat, begitu pula tanganku. Kalau diperhatikan dua tahun lalu
memang wajahku belum ditumbuhi banyak rambut seperti sekarang, masih terlihat
lebih muda kata mereka, namun aku bersikeras brewokku ini menambah maskulinitas
yang membuatku terlihat lebih elegan dan berwibawa.
Lagipula mereka juga tidak tinggal
di Jakarta Pusat. Mereka tinggal di cluster-cluster menengah keatas atau di
rumah-rumah tanah kavling di sekitar Tangerang Selatan yang lingkungannya
tertata dan terawat dari segi kehijauannya, sehingga pohon-pohon masih bisa
tumbuh melebihi tinggi rumah-rumah mereka yang biasanya bertingkat dua lantai.
Bahkan mereka juga memiliki satu atau dua jenis pohon di dalam pekarangan
mereka yang dibatasi oleh gerbang, biasanya mangga, jambu air, atau rambutan,
sehingga saat musimnya mereka bisa panen sesuka hati. Hal tersebut tidak
berlaku untuk Jakarta Pusat, aku tidak membahas perumahan mewah di kawasan
Menteng, mereka yang tinggal di rumah-rumah besar yang kelihatan tak
berpenghuni itu tentunya tidak pernah merasakan panasnya tinggal di Pusat.
ACnya pasti selalu menyala, pohon-pohon di kawasan mewah Menteng juga masih
besar dan dirawat sehingga membuat udaranya sejuk dan menutupi teriknya sinar
Ultraviolet dari matahari.
Memang rasanya tak pernah sengsara
jadi orang kaya, pantas saja selama ini orang berlomba-lomba mengejar harta dan
kemewahan, bahkan menumpuk-numpuknya tanpa menghiraukan suara keroncongan perut
dari orang sekitar. Betapa sebuah sistem turun-temurun kerap kali membentuk
perspektif manusia agar dapat terlihat lebih baik dan lebih memiliki kuasa
daripada sejenisnya sehingga bisa mengontrol yang lebih lemah atau setidaknya
membuat mereka yang tak punya melamun dan iri terhadap kepunyaan mereka.
Aku dan Wahyu tinggal di sebuah kamar kos di
sekitar Kenari. Pemukiman padat tentunya menghiasi pagi - senja dan segala
aktifitas sepanjang waktu. Sulit sekali menemukan raksasa hijau penghasil
oksigen dan kawan-kawan kecilnya yang biasa bermain terbang kesana kemari. Rasanya
tingkat kepadatan racun di udara kian padat, belum lagi menumpuknya manusia
dari penjuru tanah yang dulu disebut Nusantara malah membuat ketersediaan udara
segar menipis.
Kalau dilihat secara langsung
sebenarnya jauh lebih buruk, Jakarta itu wilayah padat, dari pagi sampai sore
bahkan malam hari rasanya mustahil untuk menghindari penumpukan kendaraan dan
segala hal-hal negatif yang dikeluarkannya mulai dari asap, suara klakson, dan
yang terburuk juga paling kubenci adalah suara knalpot dari sepeda motor,
khusunya jenis RX King. Bukan maksudku untuk menghina atau merendahkan, juga
tidaklah sekali-kali aku menyamaratakan pengguna sepeda motor jenis ini, namun
sepengamatanku mereka adalah orang yang suka kebut-kebutan di jalan sesuka hati
tanpa sadar bahwa mereka telah merusak gendang telinga dan banyak alveolusku
secara tak langsung, keparat. Belum lagi beberapa dari golongan mereka yang
mengemudi sambil mengenakan kaos bertuliskan
BAGIMU INI SUARA BERISIK
BAGI KAMI ADALAH MUSIK
Rasanya ingin kupukul tengkuknya hingga sadar betapa
kurangajarnya prilaku mereka.
Siang itu cahaya matahari membuat
aliran sungai sepanjang Kalipasir menjadi lebih jernih dan sedikit lebih indah
dari biasanya, Wahyu mengatakannya kepadaku secara langsung. Memang warnanya
menjadi lebih hijau ke abu-abuan karena beberapa hari belakangan tidak ada air
kiriman yang membuat sungai itu menjadi keruh, turun hujanpun tidak dalam
seminggu.
Seperti biasa kusampaikan apa saja menuku setiap siang hari
pada pelayan warung makan :
Nasi Setengah
Usus
Sop tapi dipisah pakai mangkuk
Air putih hangat
Sementara Wahyu memilih porsi sama untuk nasi, namun dengan
lauk tempe bacem, telur balado, dan sayur daun singkong. Kami makan siang itu
dengan kondisi lebih redup karena kaca jendela tertutup tirai berwarna biru.
Meski dalam kondisi bulan Ramadhan, kurasa baik warung-warung makan pinggir
jalan maupun restoran besar di pusat perbelanjaan memang diperbolehkan untuk
menjual makanan dengan syarat menutupi warungnya dengan tirai agar tidak menggoda
keimanan seorang yang sedang berpuasa sehingga tidak melipir untuk membeli
segelas es teh manis yang segar.
Ah kalau namanya iman yang kuat meski apapun godaannya pasti
akan tetap bertahan, karena keimanan itu ibarat akar yang menancap erat di
dalam tanah dan godaan itu adalah terpaan angin besar di atas permukaan tanah,
sekuat apapun anginnya kalau akarnya besar dan tertancap dalam maka pohon itu
tetap tegak kok. Filosofi itu kudapatkan dari temanku yang berusaha mengejekku
karena tahun lalu beberapa kali aku tidak menjalankan puasa ramadhan, dia
berujar seperti itu dan mempertanyakan keimananku yang katanya lemah seperti
akar pohon toge di hadapan teman-temanku saat reuni. Untuk apa aku ambil
pusing, kujawab saja
"Gua kan bukan pohon, jadi kalo nggak berakar juga gak
kenapa-kenapa, gak mati kok, buktinya gua hidup sehat-sehat aja".
Setelahnya perdebatan selalu ditutup dengan jawaban
"astagfirullahaladzim, semoga lu
disadarkan dan kembali ke jalan yang benar".
Sebuah jawaban klasik
dari kekalahan seseorang yang telah kehabisan argumen ilmiah untuk menyatakan
dirinya benar, aku lebih memilih berpikir positif daripada terus mencecarnya,
toh tak ada gunanya melawan sains dengan agama, keduanya memiliki teori,
landasan, dan pengikut yang berbeda pula. Memang di negara yang terdiri dari
ribuan pulau ini masih banyak orang-orang yang tidak mau tahu lebih mengenai
hal-hal yang lebih besar atau lebih detail di dunia. Jangankan memiliki rasa
ingin tahu, keinginan untuk membaca saja lemah. Terbukti di sekolah-sekolah
menengah negeri, ruang perpustakaan mayoritas hanya digunakan sebagai tempat
melepas penat dan ngadem, santai-santai, dan bermain ponsel sambil menikmati
wifi gratis.
Lebih buruk lagi adalah ketika hal-hal berbau agama menjadi
penghalang dalam menggali sebuah bidang keilmuan tertentu. Hal tersebut menurut
kesepakatan kejiwaanku merupakan serendah-rendahnya alasan manusia dalam
mengelak, mengapa? Ya tentu saja karena beralasan dengan alibi tersebut membuat
lawan bicara tak berkutik karena takut melawan norma-norma ataupun kepercayaan
setempat. Memelihara sebuah kebodohan dalam toples berlapis emas tetap saja
tidak akan merubah kebodohan tersebut menjadi barang mewah.
Di pesantren dulu pernah ada cerita dan wacana bahwa salah
seorang alumniku menjadi gila karena belajar filsafat. Katanya filsafat itu
membuat orang jadi menentang tuhan, dan argumen-argumen negatif lainnya yang
menimbulkan sebuah anjuran
"Jangan belajar filsafat, nanti bisa gila".
Wacana – wacana tersebut terus mengalir dari mulut ke mulut,
masuk melalui telinga ke telinga lainnya, hingga sebenarnya aku lupa kalau wacana
itu eksis, namun beberapa bulan lalu temanku ada yang mengatakannya kepadaku
saat mengetahui diriku belajar filsafat di kampus. Ya, sebuah stigma gila
mungkin tidak beda jauh dengan kritis atau bahkan open minded di belahan dunia
lain. Menurutku belum tentu rasanya orang-orang yang berujar demikian
mempelajari filsafat atau mendalaminya. Manusia memang selalu
mengidentifikasikan sesuatu yang berbeda dari mereka dengan kata
"gila" atau "sesat" dan "menyimpang". Maka sekali
lagi diriku ini selalu mensyukuri nikmat tuhan yang paling besar yang telah ia
berikan, yaitu kemampuan berpikir. Bahkan malaikat-malaikat di atas sana, yang
menjaga singgasana Nya, yang setiap hari bertugas mencabut nyawa, mencatat amal
baik maupun buruk, atau yang melimpahkan rezeki kepada satu persatu makhluknya
tidak memiliki kemampuan berpikir, hewan dan tumbuhanpun demikian. Mereka hanya
melakukan tugas ataupun sekedar bertahan hidup semata, tidak mampu untuk
berkembang dan membuat sebuah peradaban serta kebudayaan. Rasa-rasanya
berlindung di balik teduhnya kebodohan merupakan nikmat yang hakiki, jauh lebih
baik daripada terpapar sinar pengetahuan yang sedikit lebih panas namun baik
bagi kehidupan.
Setelah menelan beberapa suapan yang sudah kukunyah halus,
sontak makanku terganggu dengan datangnya beberapa orang yang terlihat emosional
dan petugas yang sedikit adu argumen dengan pemilik warung makan. Orang-orang
itu bersikeras untuk memaksa pemilik menutup total warungnya atau menyita
seluruh lauk yang disajikan di etalase. Mereka terus berkata bahwa ini
merupakan razia selama bulan puasa dikarenakan banyak orang melipir ke warung
ini dan mengganggu jalannya puasa umat mayoritas. Bahkan beberapa orang yang
ikut petugas tersebut menanyakan dan memaksa orang yang sedang makan untuk
menunjukkan kartu tanda penduduk mereka untuk melihat kolom agamanya. Sekitar
tiga orang yang makan merupakan umat mayoritas, termasuk diriku yang disuruh
berhenti makan. Disaat keadaan makin runyam, pemilik warung memohon untuk
diberi keringanan. Salah seorang petugas menegurku.
"Kamu kenapa agamanya A malah tidak puasa? Kamu tau
sekarang ini bulan ramadhan kan?"
"Tahu pak"
"Kamu tahu puasa itu wajib hukumnya buat umat A?"
"Tahu pak"
"Lantas kenapa melanggar?"
Selamatlah Wahyu, dia memeluk agama minoritas dari pulau
dewata, jadinya tidak ada masalah untuk saat ini. Namun bukan berarti tidak ada
masalah untuk pemeluk agama yang sama dengannya di negara ini, beberapa bulan
lalu aku membaca berita tentang pelarangan pembangunan rumah ibadah agamanya di
wilayah kota industri, alasannya adalah karena warga-warga beragama mayoritas
yang bermukim di sekitar menolaknya karena alasan-alasan klasik (tentunya
kalian tahu). Masalah untuk pemeluk agamanya adalah kesulitan beribadah karena
faktor eksternal, sementara untuk pemeluk agamaku hanya berputar-putar pada
keadaan internal berupa hal remeh seperti perbedaan tata cara, perbedaan
mahzab, perbedaan keorganisasian, perbedaan pendapat, dan ikut campurnya
manusia-manusia yang menurutku sok suci dalam urusan privasi orang lain yang
dikait-kaitkan dengan segala sesuatu berbau agama.
Aku yang ditanya oleh petugas hanya terdiam dan mengamati
pemilik warung yang terus memohon-mohon ke beberapa orang bernada membentak ke
arahnya. Situasi saat itu mulai tidak enak, padahal kemarin aku baru saja
melihat betapa bahagianya pemilik warung saat memberikan makanan secara gratis kepada
seorang lelaki tua yang lusuh, tampaknya seorang tunawisma yang baru saja
mendapat rezeki banyak kalau dilihat dari lauk-lauk di atas piring serta cara
makannya. Saat itu si kakek makan dengan sangat lahap, ikan yang dipesannya
tidak ia letakkan di atas piring, melainkan di atas meja. Dan ketika membayar
tagihan, si pemilik warung tersenyum menolak sambil berujar
“udah gak usah pak, buat ganjal perut bapak gak usah dibayar”
Tentunya si kakek berterima kasih dengan nada yang
terbata-bata. Tak henti-hentinya ia mendoakan si pemilik warung agar rezekinya
dilancarkan.
"Saya tanya sekali lagi kenapa kamu nggak puasa? Kamu
nggak takut dosa? Gak takut dengan tuhan memangnya?"
Geram sekali rasanya dihujani pertanyaan seperti itu. Rasanya
seperti ditelanjangi di tengah keramaian. Semua terkena razia memang menatapku
setelahnya, aku jadi kelinci percobaan pertanyaan macam itu. Agama itu ranah
privasi, kenapa banyak sekali manusia di negeri ini yang doyan mencampuri
hubungan manusia lainnya dengan tuhan? Baik dengan tuhan yang sama maupun
dengan tuhan yang berbeda. Padahal selama ini jagat media sosial dan media
elektronik tak ubahnya menyajikan info-info panas seputar perusak hubungan
orang atau yang kerap disapa PHO dengan stigma yang sangat buruk. Media acap
kali menyuguhkan masalah privasi tersebut, biasanya dari kalangan selebriti
maupun orang besar. Bisa-bisanya manusia negeri ini melabeli PHO dengan keburukan
tapi membebaskan banyak PHT (Perusak Hubungan dengan Tuhan). Urusanku dengan
tuhan siang itu diganggu gugat di sebuah warung makan. Kubalikkan pertanyaan
itu sambil menyeka mulutku dengan tisu.
"Bapak tahu menyembah selain tuhan adalah dosa
besar?"
"Kamu ini, ditanya bukannya jawab malah balik
bertanya!" Bentaknya.
"Apakah bapak tahu kalau mempersekutukan atau menyembah
selain tuhan itu adalah dosa besar?" Kudesak sekali lagi.
"Ya taulah saya! Kamu gak usah sok ceramah ke saya,
kamu aja nggak puasa sekarang! Jangan coba-coba pancing saya marah ya, saya
lagi puasa, nanti malah batal kalo saya marah-marah gara-gara kamu!"
Kuhela nafas sejenak
"Bapak tau puasa itu untuk tuhan? Lantas kalau
menyekutukan dan menyembah selain tuhan saja sudah termasuk dosa besar,
bagaimana dengan prilaku menyetarakan diri dengan tuhan? Tuhan berhak untuk
menghukum hamba-hambanya yang bersalah, namun apakah benar bagi makhluk ciptaan
Nya berprilaku seperti ini? Memberikan hukuman yang merugikan dan
menyengsarakan bagi hambanya yang lain? Mempersulit manusia-manusia lain yang
memiliki perbedaan secara agama dengan bapak? Apakah bapak berhak bersikap
selayaknya tuhan dan menghakimi seisi warung makan ini tanpa rasa ampun? Bahkan
ikut campur dalam menilai ibadah puasa yang ditujukan untuk tuhan? Memangnya bapak
siapa? Tuhan baru kah?"
Seisi warung mulai mereda karena aku menaikkan nada suaraku.
Rasanya detik itu mereka semua memperhatikanku dengan mematung, terjeda
layaknya menonton youtube saat kehabisan kuota. Aku jadi ingat semalam salah
seorang temanku berkicau di twitter mengenai orang tua dan anak. Ia
mengumpamakannya dengan dialog jenaka, ditulis selayaknya naskah skenario film
singkat yang berbunyi :
INT. Meja makan - malam
Orang tua : kamu gapernah curhat ke orang tua sih?
Anak : Jadi aku pusing banget karena masalah di kampus, aku
lagi insecure, aku kepikiran bla bla bla bla bla
Orang tua : kok belom solat?
Anak : yeh
Memang begitulah rata-rata orang tua yang lahir pada
generasi naungan Sang Jendral tersenyum. Mereka yang tidak mau berkembang akan
sangat sulit dalam bersikap kritis, penakut, dan selalu tunduk pada
aturan-aturan yang dibuat oleh "Yang di Atas" karena telah sering
dibungkam selama bertahun-tahun dibawah norma-norma yang bahkan mereka sadari
tidak masuk akal namun tetap mereka turuti. Berbeda dengan generasi 90an akhir
dan 2000an yang hidup lebih bebas karena sudah tidak ditekan oleh seorang
diktator. Kami punya kebebasan dalam membaca, mencari informasi, mengemukakan
pendapat, dan mencari kebenaran secara otodidak. Pemikiran generasi kami
rasanya jauh lebih terbuka, lebih rebel, dan fleksibel daripada generasi orang tua
yang cenderung kaku. Kalau ingin pembuktian ya lihat saja dialog singkat dari
twitter tadi.
"Jadi, siapa sekarang yang tidak takut dengan tuhan?
Saya? Atau bapak?"
Suasana masih hening, dia sekarang memalingkan mukanya dan
menatap teman-temannya yang lain, kuharap hatinya terketuk sedikit karena
ucapanku yang sedikit bernyali beberapa detik yang lalu. Akupun mengeluarkan
uang sepuluh ribu rupiah dari dompet hitam yang diberikan pamanku saat aku
masih sekolah dan membayar makanan yang tadi kupesan.
Setelahnya, mereka kembali memaksa warung untuk tutup,
ucapanku tak dihiraukan layaknya hembusan angin sepoi-sepoi. Beberapa pelanggan
yang masih makan disuruh keluar dalam waktu singkat, dan pemilik warung makan
diberi perintah untuk tidak membuka warung tersebut sebelum sore menjelang
berbuka. Untungnya aku telah makan setengah porsi yang kupesan, setidaknya
cukup untuk mengganjal perut hingga malam nanti. Memang begitulah hidup,
seperti yang telah kukatakan sebelumnya mengenai Betapa sebuah sistem
turun-temurun kerap kali membentuk perspektif manusia agar dapat terlihat lebih
baik dan lebih memiliki kuasa daripada sejenisnya sehingga bisa mengontrol yang
lebih lemah atau setidaknya membuat mereka yang tak punya melamun dan iri
terhadap kepunyaan mereka. Hal ini kemudian membuatku berpikir mengenai betapa
segelintir manusia memang memiliki jiwa yang terus menerus haus akan
kepemilikan, bahkan ketika berkecukupan mereka akan terus mencari cara untuk
membuat diri mereka "lebih" walaupun dengan cara menginjak sesamanya.
Dalam perjalanan pulang batinku terus mengulang-ulang segelintir memori yang
telah terjadi belakangan ini dan membanding-bandingkannya dengan peristiwa lain
yang kualami tadi. Betapa berlawanannya sebuah kehidupan di kawasan Kenari.
Semalam baru saja kulihat bagaimana beberapa ekor kecoak, tikus, kucing, dan
anjing saling memakan makanan sisa di pinggir jalan tanpa menerkam atau
mengganggu satu sama lain, walaupun sejatinya beberapa dari mereka terikat
dalam sebuah rantai makanan jika berada di alam liar. Kubandingkan dengan
kejadian warung makan tadi, rasa-rasanya apakah kita sebagai makhluk yang
diberikan kemampuan berpikir dapat lebih rendah dibandingkan makhluk-makhluk
yang hanya diberikan insting bertahan hidup? Atau apakah memang ada sebuah
kerusakan dalam kinerja kemampuan berpikir pada diri manusia apabila tidak
digunakan terlalu lama? atau mungkin jika dikotak-kotakkan oleh sebuah
peraturan yang mereka anggap paling benar?
Ah sudahlah, kurasa tidak ada artinya sikapku dalam
meluruskan orang lain. Yang terjadi biarlah terjadi. Toh selama diriku bisa
perpikir bebas dan jernih maka itulah sejatinya kebenaran yang hakiki. Pada
saat itu segala sesuatu akan terlihat jelas dan manusia bisa hidup berdampingan
seperti kecoak, tikus, kucing serta anjing di atas jalanan Kenari.
Daffa Amrullah
Cikini, 28 April 2020.
Comments
Post a Comment