Cerpen: Dari Sudirman ke Cikini
Gedung-gedung pencakar langit yang ada di sepanjang jalan
Jendral Sudirman sampai Senayan City memang menjadi favoritku saat berkendara
malam sendirian. Pukul 2 adalah waktu yang paling afdol untuk menikmati
jantungnya Indonesia. Jalanan yang sepi, udara dingin, serta ditemani dengan
headset samsung murah yang kubeli seharga 20 ribu di toko aksesoris handphone
daerah Pamulang memang merupakan kenikmatan yang luar biasa. Tidak akan ada
yang memperhatikanku saat bernyanyi keras-keras sambil mendengarkan lagu Old
Town Road nya Lil Nas X, dan Billy Ray Cyrus. Kuingat sekilas video clipnya
dimana seorang pria kulit hitam menunggang kuda di jalanan, ya sebelum aku
menontonnya di youtube telah kubayangkan bagaimana jadinya bila musik ini
dibuat video clip, pasti ada seorang pria Amerika mengenakan pakaian dan topi koboi
nyentrik sambil berkuda riang gembira dengan sepatu boatnya, klasik.
Yeah, I'm gonna take my horse to the old town road
I'm gonna ride 'til I can't no more
I'm gonna take my horse to the old town road
I'm gonna ride 'til I can't no more
Handphone kuletakkan di kantong perut hoodie biru donker
H&M yang kubeli bersama sahabat lamaku Riski saat malam takbiran di PIM,
waktu itu memang diskon besar-besaran di berbagai toko pakaian, namun tetap
saja ujung-ujungnya kami membeli di tempat itu. Padahal malam sebelumnya Raihan
(sahabatku dari Pamulang) telah mengajak berkeliling jalanan yang penuh distro
pakaian di daerah Bintaro, padat sekali malam itu dengan berbagai macam orang
dan pakaian yang mereka beli menjelang lebaran. Tapi tekadku sudah bulat untuk
membeli satu saja pakaian dari H&M agar terlihat trend. Hahaha tentu saja kami tidak lupa berfoto di kaca sambil memegang barang belanjaan yang di bungkus
dengan tas belanja dengan logo merah H&M, prilaku ini mungkin kulakukan
sekali seumur hidup agar terlihat sama seperti teman-temanku di sosial media
yang hampir setiap malam minggu kulihat instastorynya, garis-garis putih yang
berbaris itu tidak jauh-jauh dari menampilkan boomerang di kaca H&M,
sepiring hidangan Sushi Tei, dan video limabelas detik berisi temannya yang
berjalan di area mall sambil mereka berbincang
"Nemenin beemnya si (nama tidak akan dicantumkan),
huhuu... Mau kemana kita sayang?"
Yah seperti itulah yang kelihatannya generasi zaman
sekarang. Sepulang dari PIM dan membeli hoodie tersebut, kami makan malam di tukang pecel ayam pinggir jalan sambil meletakkan belanjaan kami di atas meja yang menyatu dengan gerobak etalase tempat memajang tempe, tahu, ayam, usus dan ati, juga lele tentunya, sebuah pemandangan yang jomplang demi memenuhi gaya hidup di kota besar dan tradisi pakaian baru di hari raya, meskipun tahun itu aku tidak ikut pulang kampung karena padatnya jadwal praktek dari kampus, tapi tetap saja kuminta jatah uang untuk beli baju baru.
Malam itu memang aku berkendara sendirian, kursi belakang
kosong tak ada penumpang, bukan vespa matic atau mobil layaknya kawan-kawanku
yang kadang ku iri kan dalam hati, tapi motor honda beat hitam kuning keluaran
tahun 2014, buat berangkat sekolah semasa SMA dulunya, tapi sampai sekarang tetap nggak
diganti baru, setidaknya PCX atau NMAX harapku. Tapi aku suka berkendara sendirian, rasanya seperti melepas penat dari
tugas-tugas kampus yang sering kali kupikirkan saat di kasur namun enggan
kukerjakan jua karena magnet gravitasi yang konon katanya sangat besar, teori
ini mengalahkan segala bentuk konspirasi seperti Dajjal di segitiga bermuda
sampai serangan 9/11 di Amerika.
Ketika roda motorku sampai di bundaran HI bagian kecil otak
ini mulai bernostalgia gara-gara melihat patung selamat datang itu, entah
kenapa random sekali rasanya kalau bernostalgia di Jakarta. Kali ini ingatanku
kembali kepada sebuah peristiwa besar yang terjadi pada bulan September 2019,
saat unjuk rasa besar-besaran di depan gedung DPR Senayan. Aku yang kala itu
berangkat bersama dari IKJ memutuskan untuk tidak menggunakan almet kampus.
Mungkin sebagian temanku bertanya dan bahkan rela meminjamkan almetnya, tapi
aku menolak. Waktu itu persyaratannya adalah wajib mengenakan atribut kampus,
mengikuti arahan komando, tidak terprovokasi, dan ikut beraspirasi dengan tertib
bersama mahasiswa-mahasiswa lain. Kurasa kalau tidak mengenakan atribut,
hal-hal itu tidak berlaku padaku selayaknya orang bebas, namun akan ada resiko yang harus
kutanggung sendiri.
Kubawa kamera Canonku dengan lensa 16-200, dan tetap
mengikuti rombongan dari IKJ, namun aku merasa berjalan seperti manusia bebas walau dalam rombongan besar beralmet oranye. Pikirku was-was saat membayangkan resiko besar menanti di lokasi, seperti mungkin kalau keadaan
memburuk aku akan jadi sasaran amukan pendemo apabila dikira wartawan yang pro
pemerintah, atau mungkin aku akan tertangkap dan dihajar bahkan mungkin
dihilangkan oleh si seragam cokelat karena dikira pro demonstran.
Sepanjang dua
hari ikut menyaksikan secara langsung peristiwa bersejarah itu, aku berusaha
menetralkan segala bentuk pikiran yang terlintas. Ya, aku benci politik, sangat benci, rasa-rasanya
seperti tidak ingin menyentuhnya sama sekali seperti pare. Sewaktu kecil, aku
memiliki seorang tukang siomay langganan yang lewat depan rumah setiap sore,
biasanya aku membeli campuran antara siomay, otak-otak, dan kol, tanpa tahu
cokelat ataupun tahu putih. Namun sore itu berbeda, rasa penasaranku tertuju
pada sebuah benda hijau yang disusun bersama siomay dan kawan-kawannya, kutanya
langsung ke abang siomay itu
"Itu apaan bang?"
"Ooh itu pare"
"Enak bang rasanya?"
"Enak, mau coba?"
"Yaudah boleh bang pake parenya satu aja"
Setelah dipotong-potong, diberi kecap dan bumbu kacang, aku
langsung mengambil bungkusan itu dan membayarnya lalu pergi bermain di lapangan
bersama teman-teman. Selang beberapa menit, aku baru mencoba siomay yang kubeli
barusan, kumakan dengan lahap hingga tiba-tiba wajahku berubah menjadi berkerut ketika
menggigit sebuah benda yang tidak enak itu, rasanya sangat pahit di lidah
sampai-sampai kubuang dan meludah berkali-kali ke tanah yang berdebu di kala kemarau itu.
Tatapanku sontak mengarah ke gerobak siomay tadi, kuperhatikan si abang sialan
itu sedang melihatku dari kejauhan sambil tertawa, rupanya dia mengamati
reaksiku dari tadi sembari menunggu pelanggan lain membeli siomaynya.
"Anjing, mana ada orang yang makan beginian? Rasanya
nggak enak sama sekali. Tapi kenapa dijual ya?"
Oke aku tidak akan mengungkapkan kata-kata kasar itu didepan
tetangga-tetanggaku ataupun di depan tukang siomay sialan itu, cukup dalam
hati.
Ya sama seperti politik, saat membaca berbagai buku pelajaran
sejarah sejak SMP rasanya sama seperti memakan siomay, ketika bertemu dengan
kasus-kasus yang berkaitan dengan politik rasanya seperti mengunyah pare, sebab
itu aku tak suka, namun aku terus bertanya
"Kenapa ada orang yang mengkonsumsinya, bahkan
menyukainya?"
Demonstrasi itu dihadiri banyak manusia dengan warna-warni
almet yang berbeda. Mereka meneriakkan yel-yel, menyanyikan hymne perjuangan
sampai Indonesia Raya, dan tentunya tidak luput dari sumpah serapah terhadap
wakil rakyat yang mungkin sedang minum Janji Jiwa atau Kopi Kenangan di salah satu ruangan berAC di dalam
sana. Berbagai kalangan dengan pemikiran yang beragam tumpah ruah disana. Mungkin... Mungkin... Ada yang pro kiri, ada yang agamis, feminis, radikal, ada
yang tadinya apatis, dan bahkan ada juga yang nggak ngerti apa-apa dan cuma
pengen ikut memeriahkan aksi solidaritas tersebut.
Untukku? Netral. Aku hanya berusaha untuk menjadi pengamat
disana, memang kampus memiliki agenda protesnya sendiri yang berkaitan dengan
pasal-pasal "ngawur" yang dibuat DPR, tetapi aku kan tidak mengenakan
atribut, apalah daya aku seorang individu terpisah, namun untungnya aku bisa bergerak
dengan lebih leluasa tanpa adanya pengaturan dari berbagai pihak. Memang sejak dulu
jiwaku selalu memberontak terhadap segala sesuatu yang bersifat mengatur atau
membawahiku, ketika di pesantren aku pernah berkelahi dengan ketua angkatanku
karena sebuah Es Doger. Irsyad adalah ketua angkatanku dan aku menghormati
jabatannya. Kami cukup dekat, namun aku tidak menyukai caranya memperlakukan
teman-temanku, ia biasa bercanda dengan kekerasan fisik seperti mendorong,
memukul, atau menendang rekannya sesuka hati, sebuah contoh yang menurutku tak patut bagi seorang ketua angkatan yang dihormati dan disegani oleh anak buahnya. Puncaknya ketika aku berebut segelas Es Doger berisi ketan hitam, tape, dan roti itu dengannya, aku yang kesal karena ia memukulku lantas berceloteh
"Pantesan angkatannya banyak masalah, ketuanya aja
gini.. gak bener"
Walaupun Irsyad tidak terlalu tinggi, ia memiliki badan yang kekar dan tenaga yang besar seperti seorang kuli proyek, hal tersebut didukung karena ia merupakan seorang pemain bola yang handal dan ikut ekskul Wushu dengan aliran keras. Ia naik pitam dan membantingku, berkata-kata kasar dan
meninggalkan perkelahian itu setelahnya. Malamnya seluruh angkatanku
dikumpulkan, kasus itu diungkit dan menjadi permasalahan serius di angkatan dan
mudabbir (pembimbing kamar asrama). Setelah peristiwa itu, aku dikucilkan
selama beberapa hari, temanku berkurang hingga menjadi sangat sedikit. Tidak
ada yang ingin berbicara denganku, bahkan teman sekamarku bubar ketika aku
nimbrung ke dalam obrolan mereka, aku sendirian. Semua itu tidak berlangsung
lama, kira-kira sekitar satu minggu lebih tiga hari, setelahnya kami berdamai dan situasi kembali normal walau terkadang masih
ada rasa canggung antara aku dengan Irsyad selama beberapa minggu.
Kembali ke pertengahan September kala itu, kebebasan memang
adalah sebuah harga yang mahal, banyak sekali hambatan-hambatan yang akan
ditemui untuk meraihnya. Aku ingat bagaimana beberapa film Hollywood menampilkan penderitaan budak-budak kulit hitam yang berjuang untuk meraih kemerdekaannya, sementara aku hanya cukup dengan tidak menggunakan atribut kampus, harusnya aku sedikit bersyukur karena kemudahan tersebut. Di tengah kerumunan aksi aku hanya terdiam dan
mengamati berbagai macam kata-kata yang dirangkai menjadi sebuah orasi dari
petinggi-petinggi kampus yang naik di atas mimbar mobil yang mesinnya berisik
dan membuat kupingku pengang, sambil sesekali aku memotret dan merekam video
untuk kujadikan sebuah film dokumenter yang menjadi tugas salah satu mata
kuliah di kampusku. Mahasiswa-mahasiswa yang hadir banyak yang menyimak, dan
berteriak lantang dengan semangat memprotes, namun banyak pula olokan-olokan
yang menurutku unik, beberapa dari mereka kerap kali berteriak
"DPR BEGO, MASA GAK BOLEH NGEWE!"
atau
"KAYAK NGGAK PERNAH CEK IN AJA PAK!"
Setelahnya mereka tertawa cengengesan, merokok, dan
cengengesan lagi, dan merokok lagi, bahkan mengabaikan seseorang yang sedang berorasi di atas.
Sekali lagi akal sehatku kembali berucap
"Aku disini hanya sebagai pengamat, bukan penilai,
jangan hakimi orang berdasarkan mulutnya atau merk rokok apa yang mereka hisap, siapa tahu ia memiliki maksud dan urusan yang besar namun
dirimu tak tahu".
Aku berspekulasi bahwa tidak semua orang di dalam kerumunan besar ini peduli, mengerti, bahkan murni berjuang untuk kepentingan rakyat. Bisa jadi mereka hanya ikut-ikutan, tidak tahu benar pasal-pasal yang di protes, sekedar pamer bendera kampus atau bendera organisasi keagamaan kampus, atau pula hanya ingin menunggu kerusuhan dan ikut tawuran legal yang gratis, tanpa perlu takut ditangkap atau dibubarkan karena pesertanya sangat banyak. Ah sudahlah kata Nabi berburuk sangka itu bukanlah hal baik, fokuslah pada tujuanmu disini wahai manusia merdeka, tujuanmu adalah mengamati dan mempelajari, serta merekam sejarah melalui kamera yang kelak kau jadikan mata utamamu saat momen-momen penting. Kau bukanlah seorang apatis, buktinya sekali ini kau ikut demonstrasi, walau tidak berteriak-teriak dan membakar ban di tengah jalan seperti halnya yang kau olok-olokkan kepada temanmu yang fanatik terhadap keorganisasian di kampus lain itu. Kau pula bukan buih dalam aliran sungai, pembuktiannya kau terpisah dari kawanan dan berhasil mendapat banyak kesempatan emas dari garis depan, itulah yang seharusnya kau manfaatkan.
Di tengah jeda maghrib aku diizinkan naik ke atas mobil yang
dijadikan mimbar dan mulai memotret kerumunan. Disini penglihatanku menjadi
lebih jelas, aku dapat melihat segalanya dari sini, bahkan temanku dari SMA
yang turut hadir pada demonstrasi itu terkejut dan heran melihatku bisa naik ke
atas situ, tanpa almet! Hanya berkemeja krem yang bermotif beberapa gambar Bunda
Maria sedang menggendong bayi Yesus. Ia mengirimi pesan lewat line, mengirim
fotoku dari kejauhan dan menulis
"Itu elu ya? Lu ngapain di atas?"
Ingin sekali kujawab, namun kuotaku tidak ada, pesan inipun
kuterima beberapa saat setelah aku meminta hotspot temanku dari rombongan
IKJ saat beristirahat setelah aku selesai motret di atas mimbar.
Di atas sini aku melihat beberapa mahasiswa yang menjalankan
solat di tengah kerumunan lainnya yang memberikan ruang kepada mereka, betapa
kepercayaan dapat mengalahkan segala situasi, tuhan adalah tempat bergantung,
bahkan dalam situasi sulitpun mereka menyempatkan diri untuk memuja Nya.
Malam pertama itu berakhir buruk, sejumlah mahasiswa
terprovokasi dan memblokade jalan tol, mereka juga melempari batu ke arah
kendaraan yang lewat. Ah tidak boleh rasanya aku menyebut mereka demikian,
gunakanlah kata "provokator" agar lebih baik, tetapi tidak sekali
lagi, mataku jelas-jelas melihat mereka menggunakan almet dan melempari batu di
jalan tol, bahkan mereka pula melempari berbagai benda ke arah gerbang gedung
DPR yang di dalamnya terdapat banyak personil seragam cokelat dan wartawan
meliput. Mereka itu golongan terpelajar yang beberapa jam lalu bersuara lantang untuk rakyat, sejujurnya pelemparan ini membuatku geram, tetapi kenetralanku harus dipertahankan. Berkali-kali kudengar Bapak Komandan memohon dengan pengeras suara
"Adik-adik, mohon jangan lakukan itu, jangan adik-adik.
Tolong jangan paksakan kami. Adik-adik jangan, jangan, jangan lempari mereka,
mereka bukan musuh kalian, mereka hanya ingin pulang dengan selamat, mereka
punya keluarga yang menunggu di rumah"
Berkali-kali Bapak Komandan memohon, sepenglihatanku barisan
seragam cokelat tidak menyerang sama sekali malam itu, hingga akhirnya
"provokator" meninggalkan jalan tol. Mungkin yang kulihat tadi tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan berbagai cerita yang kubaca mengenai kerusuhan, segala bentuk pengrusakan, serta kekerasan dan pemerkosaan yang ditujukan kepada etnis Tionghoa tahun 98, tapi kenapa harus rakyat biasa yang diserang malam itu? kenapa jalan tol diblokade ketika DPR tidak membiarkan mereka masuk? toh yang jadi musuh saat itu kan wakil rakyat, bukan rakyat (?). Suasana riuh kekacauan itu
serasa menampar bagi diriku, berbagai aksi damai yang dilakukan berjam-jam rasanya
rusak gara-gara insiden itu, mungkin kalau ini pertandingan sepak bola aku akan
menilai 1-0.
Ayahku pernah bercerita tentang penjarahan yang dilakukan di
Ramayana Ciputat tahun 98, katanya terjadi sebuah amukan besar hingga berujung
pada penjarahan dan pembakaran toko pakaian tersebut. Guru SMAku juga pernah
membeberkan pengalamannya melihat situasi pasca kerusuhan, katanya ada troley
berserakan di jalan raya Ciputat depan Lotte, dia mengatakan bahwa saat itu
Lotte juga dijarah habis-habisan, banyak toko dibakar dan sebagainya, mungkin itulah yang disebut kemarahan rakyat.
Motor Beatku kini telah sampai di jalanan Cikini, aku
menengok ke arah proyek JakPro yang kontroversial itu, memang renovasi Taman
Ismail Marzuki telah merenggut berbagai kebahagiaanku dan teman-teman kampus
yang biasa nongkrong denganku. Mula-mulanya kantin depan XXI direnovasi, itu
membuat tongkrongan kami saat jam makan siang menghilang. Kantin Oma yang
tadinya penuh tawa saat kami memesan makanan kini telah sirna, padahal harga
teh tawar hangatnya hanya 2 ribu rupiah, cukup menghemat uang jajanku di siang
hari. Kedua, Batmer ditutup. Batmer adalah tempat mangkalnya berbagai macam
penjual makanan dari maghrib hingga tengah malam di depan Taman Ismail Marzuki.
Banyak sekali jajanan yang dapat dibeli disana, mulai dari nasi gila, sate
padang, ketoprak, bebek madura, hingga berbagai jenis kopi seduhan ada disana.
Ciri khas lainnya dari batmer adalah tempat mangkalnya seniman-seniman sekitar
yang dapat dengan mudah kalian jumpai, vibes keramaiannya dari berbagai kalangan hingga terkadang ada juga orang bule yang nongkrong disana, lalu pengamen dengan suara merdu yang bisa request lagu atau nyanyi bareng, ia biasanya berdiri ditengah sambil memegang gitar, kadang
menggunakan microphone dan bernyanyi Berharap Tak Berpisah nya Reza Artamevia.
Saat membeli nasi gila langgananku bersama sahabatku Wahyu, aku pernah melihat
Jefri Nichol bersama seorang perempuan berjalan melewati Batmer menuju taksi.
Ya sudah, cuma sekedar memberi tahu bahwa aku pernah melihat seorang Jefri
Nichol secara langsung, biasa saja mungkin, tapi untuk beberapa orang di
belahan dunia ini, mungkin ada juga yang iri terhadap situasi yang kualami.
Hari kedua di Senayan sangatlah kacau, saat rombongan IKJ belum sampai
di gedung DPR, semua peserta demonstrasi wanita yang berada di depan gedung DPR di tarik mundur. Rombongan kami
berhenti di dekat jembatan layang dan mulai menginstruksikan anggota untuk
mundur, namun hari itu aku juga tidak menggunakan almet, toh ini adalah
kesempatan sekali seumur hidup pikirku, siapa tahu aku berhasil mendapatkan momen mahasiswa kembali menduduki gedung DPR seperti dalam buku sejarah. Tanpa pikir panjang kutinggalkan
rombongan dengan membawa Canonku menuju garda depan demonstrasi. Hari itu
menjelang sore, mata ini menyaksikan bagaimana orang-orang tergolek lemas
dijalanan, beberapa orang lainnya membopong kawannya, dan sisanya mengerumuni,
memberikan air, dan berteriak panik di tengah huru-hara. Semuanya kacau, kurasa
banyak yang terpisah dari rombongan kampusnya, kepanikan dimana-mana, ditambah
lagi dengan suara ambulan yang digunakan untuk menolong korban membuat fokusku
terpecah entah kemana. Aku terus maju ke depan, yel-yel dari demonstran terus
berkumandang. Hari itu bukan hanya ada mahasiswa, tapi buruh dan tani juga ikut
dalam aksi besar-besaran itu. Saat semua berbaris mundur, aku maju, menerobos
mereka yang meneriakkan yel-yel
"PERSATUAN!"
"BURUH TANI MAHASISWA!"
"PERSATUAN!"
"BURUH TANI MAHASISWA!"
Sebuah keajaiban bung! ini merupakan kuasa tuhan. Bagaimana bisa
seorang muda-mudi sepertiku yang pada hari-hari biasa mungkin memiliki
aktifitas ketawa ketiwi di kedai kopi saat senja menjelang malam dan berjalan
berlenggak lenggok di pusat perbelanjaan untuk sekedar pamer di sosial media
bisa meneriakkan yel-yel semacam itu? Aku curiga, sawah pun belum tentu mereka
ingin kunjungi dibandingkan bioskop atau sabu hatchi, berkomunikasi langsung
dengan petaninyapun rasanya orang-orang seperti mereka enggan. Tapi kali itu mereka semua bersatu, seperti golden scene dari film Avengers : Endgame, tapi kali ini lawannya bukan Thanos.
Di depan, situasinya lebih runyam lagi, situasi tergambarkan
layaknya sebuah medan perang. Banyak benda yang terbakar, asap dimana-mata,
puluhan atau mungkin ratusan pasukan seragam cokelat telah menembakkan gas air
mata ke arah kami berkali-kali, menyemprotkan water canon dari mobil-mobil besarnya, bahkan
beberapa personil seragam cokelat melempari kami dengan batu dari dalam gerbang
gedung DPR. Sialan! Hampir kepalaku jadi sasaran ditengah lemparan batu
antar "provokator" dan "seragam cokelat". Waktu itu aku
memang berada di tengah-tengah mereka dengan Canonku sendirian, tak ada seorangpun dari kedua belah pihak yang kukenal saat mengabadikan momen bersejarah ini.
Tidak adil rasanya sebagai wasit memberikan skor 1-0 untuk
kemenangan mereka semalam. Kalau berdasarkan kabar yang kudengar, ini belum
pukul 6 sore namun berani-beraninya mereka memukul mundur pendemo, dengan
kekerasan pula. Memang saling serang tak dapat terelakkan, tapi rasanya tidak
adil untuk pihak yang mungkin kemarin sempat kusebut "provokator" yang tak dipersenjatai sama sekali. Aku tidak dapat menjelaskan kejadian setelahnya karena
konsentrasiku hancur akibat terkena gas air mata, sesak rasanya di dada,
membuatku terbatuk-batuk dan bersin lebih dari apapun flu yang pernah kualami
semasa hidup, mataku juga serasa dicolok dan terus menerus mengeluarkan air
mata, makin dikucek malah semakin perih.
Sambil berlarian, menjelang maghrib aku mendapat pesan dari sahabatku Iqbal,
kami adalah teman pesantren saat SMP. Ia bertanya dimana lokasiku sekarang, dia
butuh pertolongan. Pesannya mengatakan bahwa ia terpisah dari teman-temannya
dan dalam kondisi yang buruk akibat terkena gas air mata. Dia mengirimiku
fotonya yang sudah sangat kacau, matanya merah dan mengeluarkan air mata,
rambutnya berantakan, di bawah kelopak matanya terdapat sisa-sisa odol kering
dan wajahnya berkeringat.
Kami biasa
meninggalkan kelas muhadoroh (latihan berpidato) dengan bersembunyi di kamar,
kami memilih berdua di ranjang pojok yang tidak kelihatan orang dan membaca
komik The Raid yang filmnya booming tahun itu, maklum di pesantren tidak ada sarana untuk nonton film jadi tentunya tidak ada seorang sinefil disana. Kuakui cara itu efektif, kami
tidak ketahuan dalam beberapa kali percobaan hingga beberapa komik yang kami baca. Kami berdua juga sering
bersembunyi di kamar saat malam kajian kitab kuning, kami punya tempat rahasia
yang aman agar tidak ketahuan oleh ustad ataupun pengurus organisasi, di tempat
itu kami biasa berbincang, bercanda, dan tertawa dengan pelan, kadang sampai tertidur
saking bosannya. Tapi setidaknya kebosanan ini tidak lebih besar daripada harus
mengikuti kegiatan kajian kitab kuning yang sangat menjenuhkan. Apabila
tertidur saat kajian itu, biasanya pengurus organisasi akan melemparkan sajadah
dengan keras ke arah wajah kita sampai kita terbangun dan santri-santri lain
memperhatikan kita, sungguh memalukan.
Ah rasanya tak tega diriku membayangkan sahabat madolku dalam kondisi seperti itu, membayangkan wajah kecilnya saat dulu membaca komik
berdua membuat hatiku tergerak meski keadaanku sedang kacau juga. Kuhampirilah
lokasinya yang berada di dekat sebuah tower besar di samping jembatan layang, dan kudapati dirinya sedang duduk bersandar ke pembatas jalan dalam keadaan lemas.
"Lu gak kenapa-kenapa kan? Lu kok ikut demo? Emang kampus S boleh demo?" ujarku
"Gak boleh, gua tadi berangkat berlima sama temen-temen
gua, tapi sekarang semuanya pada kepisah. Dosen gua nanyain semua kabar
mahasiswa lewat grup whats app buat mastiin gak ada yang ikut demo, tapi gua berlima tetep
jalan"
"Lah terus gimana lu ntar di kampus?"
"Nah makannya gua gatau ini, biarin aja kayaknya sih
mereka juga gatau gua disini"
Beberapa kampus swasta memang tidak mengizinkan mahasiswanya
untuk ikut berunjuk rasa, bahkan ada yang memasang sanksi tegas dengan hukuman
drop out. Itulah sebabnya Iqbal tidak mengenakan atribut, ia menggunakan hoodie
zipper hijau tua merk Wknd yang dibeli di salah satu distro di Tebet, dulu aku
sempat menginginkan hoodie seperti itu, namun jelas kuurungkan niatku karena aku sudah
punya hoodie biru tua H&M ku dengan tulisan UCLA kuning di dadanya.
"Lu kok nggak pake almet? Temen-temen lu mana?"
Tanya Iqbal sambil mengguyurkan air yang kuberikan ke matanya yang merah
"Gua misah, dari kemaren gua gak pake almet, gua motret
sendirian"
"Ati-ati kamera lu bego, gausah motret sekarang banyak
yang lempar batu, ntar pecah bahaya"
"Iya gua tau, batre gua juga udah abis ini"
Malam itu kami berdua mengumpulkan beberapa teman alumni pesantren
kami yang ikut dalam demonstrasi dengan cara saling berbagi lokasi lewat whats
app. Bahkan pukul 11 malam beberapa orang teman pondok yang dari Bandung baru
sampai di lokasi kami. Sisa malam kami habiskan dengan kucing-kucingan dari
aparat berseragam cokelat. Dalam beberapa jam, berkali-kali gas air mata
meledak di samping kakiku. Kami lari kesana kemari, mengamati kelamnya situasi
malam itu, dimana air menjadi lebih berharga daripada uang, ya air untuk minum dan menghilangkan efek dari gas air mata, bahkan banyak sekali warga yang sukarela memberikannya kepada demonstran yang masih bertahan malam itu. Kepulan asap dimana-mana, motor terbakar, selongsong peluru besar,
dan batu-batuan berserakan, sarana-sarana di sekitar Gelora Bung Karno banyak yang hancur dan terbakar, beberapa fasilitas yang dibangun demi jalannya Asian Games dan Asian Paragames rusak parah, sekitar GeBeKa terlihat seperti jalur Gaza, versi mini tentunya.
Malam itu rasanya kupingku sudah tidak asing mendengar suara ledakan, sirine, teriakan, petasan, dan umpatan. Mataku sudah biasa melihat pilokan dengan tulisan-tulisan kasar di fasilitas umum, api dan asap, terlebih melihat gambar-gambar alat kelamin pria yang di tengahnya bertliskan DPR. Kaki ini sudah kuat berlari kemanapun, deritanya melebihi saat aku dan kawanku berlima nanjak ke puncak Ijen dan turun ke Blue Fire tanpa persiapan matang. Dulu kami kira naik ke Ijen hanya sekitar 15 menit, ternyata butuh 4 setengah jam dan kami hanya membawa satu botol aqua 1,5 liter, sialan memang kami yang tidak membaca artikel dan main mampir begitu saja. Setelah mendapat makanan hasil jarahan mobil aparat
dari orang-orang sekitar yang bisa kusebut sebagai penjarah, kami memutuskan untuk meninggalkan lokasi pertempuran
itu menuju parkiran mobil milik temanku dari Bandung yang diparkir di kawasan
SCBD. Kami merokok dan beristirahat.
Sontak malam itu aku bernostalgia, ah memang sudah menjadi
hobi rasanya diriku ini bernostalgia. Dalam keadaan badan yang sudah sangat
lelah dan kaki yang berasa telah hilang dari pijakannya aku teringat pada guru
Bahasa Indonesiaku ketika di pesantren. Ia pernah bercerita bahwa saat
kerusuhan 98, yang menyebabkan terjadinya kerusuhan masyarakat adalah ikut
sertanya anak buah dari Nyi Roro Kidul dari pantai selatan, itu kata temannya
yang orang pintar. Sontak aku termenung dan berpikir, apakah hal itu beneran
ada? Apakah tadi itu juga ada sangkut pautnya dengan pasukan Nyi Roro Kidul?
Atau memang orang pintar ini memang beneran pintar sehingga bisa membuat guruku
percaya, dan bahkan kami sekelas percaya dan menyimak pembicaraan guruku ini
yang katanya diceritakan oleh temannya yang orang pintar. Benar benar pintar
orang ini.
Kepulan asap itu menghilang di tengah udara malam, membaur
bersama atmosfer di atas sana. Aku menatap ke atas, ke arah gedung-gedung
kawasan SCBD dan melihat bulan dalam bingkaian sebuah awan tipis di malam hari,
mencoba mengingat-ingat apa saja yang dapat kupetik dari dua hari kebelakang.
Motorku sudah sampai di tempat parkir namun lagu di playlist
spotify malah sedang asik-asiknya memutar Sampai Jadi Debu yang intronya lama dan mendayu-dayu. Aku pun berjalan menuju kos sambil membuka
instagram, kulihat salah seorang teman memposting foto dengan caption
"Hanya ada dua pilihan : menjadi apatis atau mengikuti
arus. Tapi, aku memilih untuk menjadi manusia merdeka"
-Gie
Sebuah quotes dari Soe Hok Gie memang sedikit tepat untuk
mengakhiri nostalgia lamaku sepanjang jalan Sudirman-Cikini di kala malam. Aku
memang tidak pernah membaca karya-karyanya Gie, tetapi pernah beberapa kali
mengunjungi makamnya di Museum Taman Prasasti, bukan mengunjungi sih melainkan
hanya sekedar melihatnya ketika berada di lokasi tersebut. Quotes yang katanya
instagram temanku dari Gie ini mengingatkanku akan cerminan kala peristiwa itu, diriku yang berada pada dua pilihan untuk menjadi seorang apatis atau yang mengikuti
arus pada demonstrasi, namun nyatanya aku memilih untuk menjadi manusia
merdeka dengan Canon kesayanganku.
Aku berterima kasih kepada Iqbal dan kawan-kawan yang telah
menemaniku berpetualang malam itu, karena tanpa mereka mungkin aku bukanlah seorang yang
merdeka, melainkan hanyalah sebatangkara.
Lagu terakhir dari Banda Neira, ia membimbingku menaiki satu per satu anak tangga menuju lantai tiga, dan berujung saat lirik
akhirnya mengantarku sampai ke kamar,
Selamanya
Sampai kita tua
Sampai jadi debu
'Ku di liang yang satu
'Ku di sebelahmu
Lantas kumatikan lagu, dan lampu untuk mengakhiri cerita
ini.
Daffa Amrullah
Cikini, 22 April 2020
Comments
Post a Comment